"Jadi, bukan tidak ada solar atau langka," kata GM Pertamina Region I Giri Santoso usai rapat dengar pendapat dengan Komisi B DPRD Sumut di Medan, Senin.
Menurut Giri, kuota BBM jenis solar di Sumut untuk tahun 2013 berkurang dan hanya mendapatkan realisasi sekitar 92 persen dibandingkan tahun 2012.
Sebenarnya, jumlah kuota tersebut mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Sumut jika seluruh pihak mengikuti imbauan pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Ia mencontohkan keharusan kendaraan milik pertambangan, perkebunan, dan kehutanan untuk tidak menggunakan BBM jenis solar bersubsidi.
Disebabkan banyaknya kendaraan tersebut yang menggunakan solar bersubsidi, jumlah yang harus didapatkan masyarakat menjadi berkurang sehingga terkesan langka.
Ia mencontohkan dengan peristiwa yang terjadi di Kabupaten Mandailing Natal dengan banyaknya antrean kendaraan masyarakat di sejumlah SPBU belum lama ini.
Untuk mengatasi kekosongan persediaan di SPBU tersebut, pihaknya mengambil langkah untuk mempercepat jadwan distribusi agar kendaraan yang kehabisan solar tidak mengantre terlalu lama.
Pihaknya juga mengharapkan seluruh elemen masyarakat untuk memberitahukan Pertamina jika menemukan adanya SPBU yang persediaan BBM-nya kosong sehinga menyebabkan antrean.
"Kalau langka, jadwal pengirimannya dipercepat. Namun intinya tidak boleh lebih dari kuota," katanya.
Asisten Eksternal PT Pertaminan Region I Fitri Erika mengatakan, pada tahun 2012, Sumut mendapatkan kuota BBM jenis solar sebanyak 1,1 juta kiloliter, sedangkan 2013 menjadi satu juta kiloliter.
"Jadi, ada penurunan kuota sekitar delapan persen," katanya.
Menurut dia, penetapan kuota itu diikuti dengan Peraturan Menteri ESDM nomor 1 tahun 2013 disebutkan, mulai 1 Maret 2013 seluruh kendaraan pertambangan, perkebunan, dan kehutanan harus membeli BBM nonsubsidi
"Nah, ini yang belum terealisasi. Kalau truk-truk itu membeli solar nonsubsidi, otomatis kuota tersebut tercukupi," katanya. (I023)
Pewarta: Irwan Arfa:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.