Madina (ANTARA) - Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) belum sepenuhnya pulih meski pasokan mulai masuk pada Sabtu (29/11) malam.
Sejak bencana banjir dan longsor melanda wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) pada 24 November 2025, distribusi BBM ke Madina terhambat dan berdampak pada tingginya harga di tingkat pengecer. Tingginya kebutuhan dan antrean panjang membuat kelangkaan belum teratasi sepenuhnya.
Kepala Dinas Perdagangan Madina, Drs Parlin Lubis, mengatakan kelangkaan terjadi akibat terputusnya akses distribusi, bukan karena kekosongan stok di Depot Pertamina Sibolga. Pemerintah daerah bersama Bupati Madina dan Forkopimda telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan Pertamina untuk membuka jalur suplai alternatif, termasuk melalui Terminal BBM Dumai, Riau.
“Pasokan yang biasanya masuk dari Sibolga sementara dialihkan dari Dumai karena akses menuju Sibolga terputus total,” ujar Parlin, Sabtu malam (29/11).
Meski suplai sudah mulai masuk terpantau kondisi di lapangan belum normal. Di sejumlah kecamatan, BBM non subsidi maupun bersubsidi seperti Pertalite dan Solar masih sulit didapatkan di SPBU. Situasi ini dimanfaatkan oknum pengecer yang menjual BBM jauh di atas harga normal.
Harga Pertalite di tingkat pengecer berkisar Rp20 ribu - Rp40 ribu per liter, sementara Solar dijual Rp16 ribu per liter. Kelangkaan juga merembet ke gas LPG 3 kg yang mulai sulit ditemukan dan kalaupun ada harganya juga mencapai Rp35 ribu per tabungnya.
Alwi, seorang pengendara di Panyabungan, mengaku harus membeli Pertalite seharga Rp20 ribu per liter.
“Tadi ada yang jual ketengan, saya beli Rp20 ribu. Itupun susah dapatnya,” ujarnya.
Bahrum, warga lainnya juga mengaku Solar bahkan lebih mahal.
“Sepuluh liter saya beli Rp160 ribu. Katanya ini stok lama, karena dari SPBU memang sulit,” ungkap Bahrum, Minggu (30/11).
Di Kecamatan Panyabungan Timur, hingga hari ini warga masih kesulitan mendapatkan Pertalite. Para penarik beca terpaksa berhenti beroperasi karena tidak mampu membeli BBM dengan harga tinggi.
Keluhan serupa ini juga datang dari warga di wilayah, Siabu, Kotanopan, hingga Pantai Barat Madina. Bahkan, banyak warga rela antre sejak subuh di SPBU demi mendapatkan BBM.
Per 29 November 2025, tercata ada tujuh SPBU telah menerima pasokan Pertalite sebanyak 8.000 liter per SPBU, di antaranya, SPBU CV Rizki Pratama (14229320), Kotanopan, SPBU PT Tano Ponggol N (13229105), Saba Purba, SPBU PT Tambangan J (14229326), Aek Godang, SPBU PT Prima Putra A (14229344), Sarak Matua, SPBU CV Hj Riadoh R (14229323), Simangambat, SPBU PT Madina Natal P (14229325), Natal. Selain Pertalite, SPBU Sarak Matua juga menerima 8.000 liter Bio Solar.
Desakan Penertiban Tangki Siluman, Warga Minta Penggunaan Sistem Barcode Diperketat
Atas langkanya BBM di wilayah itu warga mendesak Polres Mandailing Natal (Madina) menertibkan praktik mobil tangki rakitan atau “tangki siluman” yang diduga mengisi BBM dalam jumlah tidak wajar di sejumlah SPBU.
Warga menilai keberadaan tangki rakitan ini memperparah kelangkaan dan mengganggu distribusi BBM bagi masyarakat umum. Karena itu, warga meminta aparat memperketat pengawasan, termasuk memastikan penerapan sistem barcode MyPertamina berjalan optimal.
Masyarakat menekankan bahwa setiap kendaraan yang melakukan pengisian wajib melalui proses pemindaian barcode untuk verifikasi, sehingga tidak ada lagi kendaraan modifikasi atau tangki rakitan yang bisa melakukan pengisian berkali-kali tanpa kontrol.
Selain itu, mereka juga berharap penindakan tegas terhadap pelanggaran dan penerapan sistem digital dapat menjamin ketersediaan BBM bagi kendaraan masyarakat yang sangat bergantung pada bahan bakar untuk aktivitas harian.
Pemkab Minta Warga Tidak Panik
Kadis Perdagangan Parlin Lubis juga menegaskan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan pasokan BBM setiap saat dan memastikan percepatan pemulihan distribusi.
“Kita berharap dalam beberapa hari ke depan pendistribusian kembali normal sehingga suplai di SPBU stabil,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk membeli BBM sesuai kebutuhan dan meminta petugas SPBU memprioritaskan kendaraan bermotor agar mobilitas masyarakat tidak terganggu.
