Guru Besar Bidang Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Prof Sandra Fikawati mengatakan fase menyusui berperan penting dalam mencegah tengkes (kekerdilan) pada anak.

“Sebanyak 23 persen bayi sudah terlahir dalam keadaan tengkes, sehingga perlu upaya yang lebih keras pada saat menyusui untuk mencegah kondisi itu berlanjut,” ujar Fika dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis.

Oleh karena itu, perlu memperhatikan kebutuhan gizi pada ibu menyusui agar dapat memberikan gizi yang optimal kepada bayi melalui air susu ibu (ASI).
 

“Kebutuhan gizi ibu menyusui itu konsumsinya harus lebih banyak dari ibu hamil untuk mencapai enam bulan ASI eksklusif dan bayinya tetap dalam kondisi yang baik. Pada saat ibu menyusui secara eksklusif, bayi bergantung sepenuhnya pada ibunya, sehingga pada masa ini perlu diperhatikan gizi ibu. Apalagi, saat ini prevalensi ibu hamil yang kurang energi kronis (KEK) dan anemia tinggi. Setelah bersalin, tidak ada waktu lagi bagi ibu untuk memperbaiki status gizinya, kecuali dengan mengonsumsi makanan bergizi saat menyusui,” paparnya.

Fika menyarankan agar fase itu menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan yang memiliki program khusus dalam rangka pencegahan kekerdilan yang dinamakan Intervensi Gizi Spesifik. Dalam program Intervensi Gizi Spesifik terdapat sembilan upaya yang dilakukan untuk mencegah tengkes pada saat sebelum bayi lahir dan setelah lahir.

Hanya saja, menurut Fika, perlu ditambahkan upaya pemberian asupan gizi yang optimal bagi ibu menyusui agar jangan sampai kecolongan menjadi tengkes di saat mendapat ASI eksklusif enam bulan.

“Ketika si ibu menyusui harus memberikan gizi yang memadai kepada si bayi, ibu membutuhkan protein dan gizi yang cukup pula untuk dirinya. Jadi, ini ada yang terlewatkan dari program Kemenkes yang tidak memperhatikan pada fase menyusui,” ucapnya.

Fika juga mengapresiasi program Kementerian Kesehatan dalam upaya pencegahan tengkes, seperti pemberian tablet penambah darah bagi remaja putri dan pemberian makanan tambahan protein hewani bagi bayi dua tahun. Hanya saja, dibutuhkan poin tambahan pada fase menyusui agar program tersebut lebih komprehensif.



Fika juga menyarankan agar pemerintah memberikan subsidi untuk memudahkan akses masyarakat terhadap makanan yang mengandung protein hewani.

Sebelumnya, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo mengatakan persoalan tengkes harus diatasi secara serius mengingat sekitar dua hingga tiga persen dari Pendapatan Domestik Bruto atau PDB “hilang” per tahunnya akibat tengkes.

Hal itu disebabkan tengkes juga berisiko menurunkan kualitas sumber daya manusia suatu negara. Hasto menyebutkan salah satu penyebab utama tengkes adalah kurangnya asupan gizi dalam jangka panjang.

“Penyebab utamanya itu asupan gizi yang kurang secara terus menerus dan jangka panjang, (ibunya) sering sakit-sakitan, dan (pola) asuhannya tidak baik. Ibu hamil yang tidak sehat, anemia, kekurangan vitamin D, kekurangan asam folat itu peluang anaknya tengkes jadi lebih besar. Begitu juga ibu hamil yang terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering hamil, terlalu banyak anaknya, ini juga menjadikan faktor tengkes,” kata Hasto.
 

Untuk mengatasi tengkes, BKKBN merencanakan program konvergensi yang memungkinkan sinergisi antarkementerian dan lembaga terkait.

“BKKBN mengerahkan konvergensi yang melibatkan Kementerian dan Lembaga terkait. Misalnya, Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) memperbaiki sanitasi, Kementerian Pertanian menyediakan pangan, Kementerian Kesehatan memfasilitasi penelitian dan pelayanan, dan lainnya,” kata Hasto.

Pewarta: Indriani

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2022