AstraZeneca Plc pada hari Selasa (8/9) mengatakan telah menghentikan uji coba tahap akhir dari salah satu kandidat vaksin COVID-19 terkemuka setelah penyakit yang tidak dapat dijelaskan pada peserta penelitian.

"Proses tinjauan standar kami diaktifkan dan kami secara sukarela menghentikan vaksinasi untuk memungkinkan tinjauan data keamanan oleh komite independen," kata juru bicara perusahaan Michele Meixell dalam pernyataan yang dikirim melalui email.

Studi ini menguji vaksin COVID-19 yang sedang dikembangkan oleh AstraZeneca dan peneliti Universitas Oxford di berbagai tempat, termasuk Inggris.

Baca juga: Australia akan dapatkan vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca Januari 2021

Sifat kasus dan kapan itu terjadi tidak dirinci, meskipun peserta diharapkan pulih, menurut Stat News, yang pertama kali melaporkan uji coba dihentikan karena "dugaan reaksi merugikan yang serius." Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan AS menyebut itu sebagai kejadian buruk di mana bukti menunjukkan kemungkinan hubungan dengan obat yang sedang diuji.

Penangguhan uji coba telah berdampak pada uji coba vaksin AstraZeneca lainnya - serta uji klinis yang dilakukan oleh pembuat vaksin lain, yang mencari tanda-tanda reaksi serupa, kata Stat.

Institut Kesehatan Nasional AS, yang menyediakan dana untuk uji coba AstraZeneca, menolak berkomentar.

Pernyataan AstraZeneca mengatakan bahwa "dalam uji coba besar, penyakit akan terjadi secara kebetulan tetapi harus ditinjau secara independen untuk memeriksanya dengan cermat."

Saham AstraZeneca turun lebih dari 8 persen dalam perdagangan AS.

Sementara saham pengembang vaksin saingannya naik. Moderna Inc naik lebih dari 4 persen dan Pfizer Inc naik kurang dari 1 persen.

Moderna, dalam sebuah pernyataan yang dikirim melalui email, mengatakan pihaknya "tidak mengetahui dampak apa pun" terhadap studi vaksin COVID-19 yang sedang berlangsung saat ini.

Sembilan pengembang vaksin terkemuka AS dan Eropa berjanji pada hari Selasa untuk menegakkan standar keamanan dan kemanjuran ilmiah untuk vaksin eksperimental mereka meskipun ada urgensi untuk menahan pandemi virus corona.

Perusahaan-perusahaan tersebut, termasuk AstraZeneca, Moderna, dan Pfizer mengeluarkan "janji bersejarah" setelah muncul kekhawatiran bahwa standar keselamatan mungkin tergelincir dalam menghadapi tekanan politik untuk segera mengeluarkan vaksin.

Perusahaan mengatakan mereka akan "menjunjung integritas proses ilmiah saat mereka bekerja menuju potensi pengajuan peraturan global dan persetujuan vaksin COVID-19 pertama."

Penandatangan lainnya adalah Johnson & Johnson, Merck & Co, GlaxoSmithKline, Novavax Inc, Sanofi dan BioNTech.
 

Pewarta: Azis Kurmala

Editor : Akung


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2020