Kelompok pemuda Islam dan Kristen di Sumatera Utara meminta agar polemik persoalan pemusnahan babi dihentikan. Polemik ini dinilai tidak perlu dibesar-besarkan.

Polemik ini sudah menyebabkan adanya gerakan unjuk rasa yang dilakukan masyarakat bertema #savebabi untuk menolak pemusnahan pada Senin (10/2). Di lain sisi, aliansi ormas Islam berencana melakukan aksi unjuk rasa untuk menolak hari kedaulatan babi yang menjadi bagian materi aksi #savebabi. 

Demikian disampaikan dua perwakilan kelompok pemuda di Medan, Kamis (13/2), dalam siaran persnya.

Menurut perwakilan kelompok pemuda Islam yakni Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sumatera Utara, M Alwi Hasbi Silalahi, polemik itu harusnya tidak ada karena Gubernur Sumut Edy Rahmayadi sudah menyatakan tidak akan melakukan pemusnahan babi. 

Baca juga: Sudah 48.000 babi mati di Sumut akibat hog cholera dan ASF

“Ini bukan lagi persoalan mendukung atau menolak aksi #savebabi. Ini soal menjaga kerukunan kita di Sumut ini yang sudah ribuan tahun damai. Intinya, kedaulatan masyarakat Sumut yang utama,” jelasnya.

“Saya pikir semuanya menahan diri, karena Gubsu juga sudah menegaskan tidak ada rencana pemusnahan babi. Baik itu masyarakat yang melakukan aksi #savebabi maupun koalisi umat Islam yang ingin melakukan aksi tandingan, baiknya disudahi,” imbuhnya. 

Hasbi juga meminta agar Gubsu mengambil langkah untuk mengakhiri polemik yang terjadi di masyarakat soal isu pemusnahan babi ini. 

Baca juga: Gubernur : Ekonomi Sumut rugi besar akibat 48.000 babi mati

“Baiknya Gubsu mengumpulkan Forkopimda, Kapolda, Pangdam, dan jajaran dinas di Pemprov bersama tokoh-tokoh agama, tokoh pemuda untuk berdialog menyelesaikan persoalan ini,” lanjut Hasbi. 

Hal senada disampaikan Koordinator Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Gito M. Pardede yang mewakili kelompok pemuda Kristen. 

“Terkait gerakan #savebabi maupun tolak #savebabi, kami mengajak masyarakat untuk menahan diri dari segala kemungkinan perpecahan. Kita tidak mau ada gesekan yang terjadi karena gerakan ini,” kata Gito. 

Gito juga meminta agar pemerintah segera menyelesaikan persoalan virus ASF yang menyebabkan banyak babi mati di Sumut. 

“Kami pemuda Sumut dalam hal ini kelompok HMI dan GMKI memahami apa yang dirasakan peternak dan pengusaha yang mengatasi persoalan virus yang menyebabkan banyak babi mati. Di sini kami meminta agar bagaimana pemerintah dan peternak dapat sejalan untuk menyelesaikan persoalan babi mati karena virus ini,” terang Gito sembari menambahkan bahwa pemerintah pusat sudah memutuskan agar pemerintah daerah bergerak cepat menangani persoalan virus babi.
 

Pewarta: Jason Gultom

Editor : Riza Mulyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2020