Medan, 21/1 (ANTARA) - Sejumlah iklan dan sinetron remaja sangat bias gender dan meneguhkan streotif negatif terhadap kaum perempuan, demikian juga dengan beberapa humor di televisi kerap menjadikan kaum cacat sebagai bahan lawakan.

"Ini tentunya kurang mendidik, terutama bagi anak dan remaja," kata Koordinator Program Yayasan Kajian Informasi, Pendidikan, Penerbitan Sumatera (KIPPAS) Pemilianna Pardede di Medan Senin.

Ia mengatakan penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tahun 2006 menunjukkan bahwa jumlah jam menonton TV anak dan remaja usia sekolah berkisar antara 35-40 jam per minggu.

Kecanduan menonton televisi dinilai over dosis dari seharunya maksimal 14 jam per minggu atau dua jam per hari. Ini adalah jumlah waktu yang terlalu besar untuk hiburan yang kurang sehat bagi anak dan remaja.

Masalahnya adalah tidak semua program televisi mendidik bagi remaja karena program program televisi , terutama sinetron, hiburan dan iklan banyak yang mengandung bias gender, bias etnis melecehkan kaum difable dan sarat muatan kekerasan simbolik, fisik dan pornografi.

"Bahkan beberapa acara humor di televisi sangat biasa memandang atau menilai suku tertentu yang akhirnya menyuburkan kampanye prasangka etnisitas atau meneguhkan streotif-streotif negatif lainnya," katanya.

Persoalannya, lanjut dia, tidak semua anggota masyarakat dapat "membaca bahasa gambar" televisi yang sering bias tersebut, bahkan tidak sedikit orang membenarkan apa saja yang disiarkan televisi , alias tidak bisa membedakan antara realitas yang disiarkan di televisi dengan realitas sosial.

Dengan kata lain banyak penonton televisi yang mengalami "tuna aksara televis" yang membuat mereka, khususnya kalangan remaja mengalami proses penguatan baik pada ranah kognitif maupun konatif (perilaku).

"Sementara persaingan bisnis yang makin ketat antar media siaran televisi dalam merebut perhatian khalayak, menjadikan mereka mudah mengabaikan tanggungjawab sosial, moral dan etika serta pelanggaran hak-hak konsumen," katanya.

Terkait dengan persoalan tersebut, Yayasan KIPPAS bekerjasa sama dengan SMA Dharma pancasila medan dan Yayasan TIFA Jakarta akan menggelar seminar "Mengkaji Tayangan Televisi Yang Bias Gender dan Sarat Kekerasan" pada 22 januari 2013.

Tujuan dari seminar tersebut adalah meningkatkan pengetahuan remaja dan pelajar tentang tayangan sinetron, hiburan dan iklan yang mengandung nilai bias gender, bias etnis, melecehkan kau, difable dan sarat muatan kekerasan fisik dan simbolik.

"Seminar tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan remaja, khususnya para guru untuk menganalisis tayangan sinetron remaja, hiburan dan iklan yang mengandung nilai bias gender. Sehingga kalangan remaja akan lebih selektif dalam menonton tayangan televisi," katanya. ***4***

(T.KR-JRD/B/M009/M009)


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026