Tapanuli Selatan (ANTARA) - Riak air di kolam-kolam budidaya Desa Sitampa Simatoras, Kecamatan Batang Angkola, menjadi saksi bagaimana sebuah program pembangunan mulai menunjukkan hasil konkret. 

Jaring diangkat perlahan, ikan nila menggelepar, dan senyum para pembudidaya mengembang. Panen di Pokdakan Berkah Paya Puri itu bukan sekadar rutinitas, melainkan simbol keberhasilan Gerakan 1.000 Kolam.

Program yang digagas Pemkab Tapanuli Selatan (Tapsel) di bawah kepemimpinan Bupati Gus Irawan Pasaribu ini mengantarkan daerah tersebut meraih peringkat terbaik pertama (Top-1) nasional dalam program pembangunan berkelanjutan (SDGs) berdasarkan penilaian I-SIM 2025.

Namun di balik capaian itu, terdapat proses panjang membangun sistem pangan berbasis masyarakat. Sebanyak 10 ribu benih ikan nila ditebar pada Oktober 2025 di kolam demplot bantuan Tahun Anggaran 2025. 

Separuhnya menggunakan tambahan probiotik M4 pada pakan, sementara sisanya dibudidayakan secara konvensional. Hasil panen menunjukkan perbedaan pertumbuhan signifikan, dengan rasio 3 banding 5 per kilogram.

“Dari segi bobot dan ukuran memang lebih besar yang menggunakan perlakuan khusus. Pertumbuhannya lebih cepat,” ujar Kepala Dinas Perikanan Tapsel, Saiful AP Nasution, kepada ANTARA, Sabtu.

Ia menyebut dari panen perdana, dihasilkan 400 kilogram ikan nila. Sebanyak 350 kilogram dialokasikan untuk mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), sedangkan 50 kilogram dijual kepada masyarakat dengan harga Rp35 ribu per kilogram. Pada panen lanjutan, produksi ditargetkan melampaui dua ton per kolam.

Ketua Pokdakan Berkah Paya Puri, Ferdiyan Saleh Dalimunthe, menyebut bantuan 10 ribu benih dan sekitar 1,65 ton pakan dari pemerintah daerah menjadi faktor kunci peningkatan produktivitas. 

Sepanjang 2025, kelompoknya berhasil mengembangkan 48 kolam baru dari total 51 kolam budidaya ikan air tenang di kawasan tersebut.

Menurut dia, perubahan tidak hanya terjadi pada aspek produksi. Infrastruktur jalan hotmix yang dilanjutkan hingga ke Paya Puri memperlancar distribusi hasil panen dan membuka akses pasar yang lebih luas. 

"Biaya logistik berkurang, kualitas ikan terjaga, dan rantai pasok menjadi lebih efisien. Gerakan 1.000 Kolam dirancang bukan sekadar proyek fisik pembangunan kolam, melainkan ekosistem ketahanan pangan," tegas Ferdiyan.

Program ini mengintegrasikan bantuan sarana produksi, pendampingan teknis, inovasi pakan, hingga konektivitas pasar. 

Menurutnya, dampaknya mulai terasa pada peningkatan kapasitas kelompok pembudidaya serta kontribusi terhadap kebutuhan gizi masyarakat.

Bagi Pemkab Tapsel, capaian Top-1 nasional bukanlah akhir, melainkan pijakan untuk memperluas dampak.
 
Target produksi yang terus ditingkatkan menjadi indikator optimisme bahwa sektor perikanan air tawar dapat menjadi tulang punggung ekonomi desa sekaligus menopang agenda pembangunan berkelanjutan.

Di kolam-kolam air tenang Paya Puri, pembangunan tidak lagi sebatas konsep dalam dokumen perencanaan. Ia hadir dalam bentuk ikan yang dipanen, jalan yang terbangun, serta semangat pembudidaya yang kian percaya diri. Dari desa, ketahanan pangan itu mulai dibangun (pelan), terukur, dan berkelanjutan.



Pewarta: Kodir Pohan
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026