Tapanuli Selatan (ANTARA) - Tanah bergerak pascabanjir bandang di Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), memaksa ratusan warga Desa Tandihat mengungsi dari rumah mereka sejak pekan lalu.
Desa Tandihat yang dihuni 186 kepala keluarga (KK) atau 630 jiwa kini terancam tinggal nama setelah pergeseran tanah terus meluas dan merusak permukiman penduduk.
Saat ANTARA hubungi, Selasa, Camat Angkola Selatan, Dody Kurniawan, menyampaikan bahwa seluruh warga telah dipusatkan di Afdeling V Marpinggan, Dusun Tangsi, Desa Marpinggan, untuk menjamin keselamatan mereka selama masa tanggap darurat.
Ia menjelaskan bahwa Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, bersama BNPB juga telah meninjau lokasi dan menyepakati relokasi warga Desa Tandihat ke kawasan yang dinilai lebih aman.
Dari total 186 KK yang dialami Desa Tandihat sudah termasuk anak Dusun Tandihat Baru yang dihuni 29 KK atau 127 jiwa. Pergerakan tanah yang terus terjadi membuat ratusan rumah tidak lagi layak huni.
"Fasilitas umum seperti sekolah dasar, rumah ibadah, dan kantor desa yang baru dibangun turut rusak akibat bencana banjir dan longsor yang memicu pergeseran tanah," sebutnya.
Bahkan, tambahnya, akses jalan dari Siaporik Dolok menuju Desa Sihopur ikut terputus setelah amblas lebih dari 100 meter dengan kedalaman mencapai sekitar 10 meter sehingga menghambat mobilitas warga.
Ruas jalan penghubung Desa Sihopur menuju Dusun Hasugian juga dilaporkannya amblas puluhan meter dan berdampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah kerjanya.
Sementara Kepala Desa Tandihat, Ranto Panjang Sipahutar, berharap perbaikan infrastruktur dan percepatan relokasi khususnya 157 KK atau 503 jiwa warga desanya segera direalisasikan agar kehidupan masyarakat dapat kembali normal.
