Tapanuli Selatan (ANTARA) - Di balik derasnya aliran Sungai Garoga, Kecamatan Batang Toru, dan hamparan lumpur yang menelan puluhan hektare lahan, tim SAR gabungan terus bekerja tanpa henti.
Sudah hampir dua pekan, mereka menyisir jalur banjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Namun dari semua temuan yang menguras tenaga dan emosi, ada dua penemuan yang paling membekas: dua jenazah yang masih terbungkus kain kafan.
Penemuan itu disampaikan oleh salah satu relawan SAR, Decky Chandrawan, yang turut bergabung bersama Basarnas dalam operasi pencarian dan evakuasi korban. “Sejauh ini sudah dua mayat dalam kain kafan yang tim kami temukan, Bang,” ujarnya kepada ANTARA, Senin.
Lokasi Penemuan Berbeda, Nasib Serupa
Decky, juga ketua dewan pendiri KPA Forester Tabagsel menjelaskan bahwa kedua jenazah itu ditemukan di lokasi yang saling berjauhan.
Jenazah pertama ditemukan pada 29 November, dalam kondisi utuh, di area kebun kelapa sawit di Janji Maria, pada jalur banjir bandang yang mengalir dari Sungai Garoga.
Sementara jenazah kedua ditemukan pada 7 Desember, sekitar satu kilometer dari bibir sungai, terdampar di tengah persawahan, dalam kondisi tidak utuh.
“Kami nggak tahu pasti asalnya dari mana. Apa jenazah itu dari Tapsel atau sudah masuk wilayah Tapteng, masih simpang siur,” tuturnya.
Ia juga menduga satu dari kedua jenazah tersebut “belum lama dikuburkan” sebelum terseret arus bencana.
Semua jenazah yang ditemukan, termasuk dua jasad berkafan itu, langsung dibawa ke Puskesmas terdekat untuk proses lebih lanjut.
“Soal dimakamkan lagi atau tidak, kami nggak tau, Bang. Tugas kami hanya memastikan jenazah sampai ke fasilitas kesehatan,” tambahnya.

Perjalanan Sunyi Menggotong Nyawa
Decky mengaku terjun ke lokasi bukan sekadar menjalankan tugas, melainkan panggilan hati.
Dengan pengalaman beberapa kali pelatihan SAR, ia merasa tak etis jika hanya diam ketika bencana sebesar ini terjadi.
“Total sudah 12 hari di lapangan. Sejak peeistiwa bencana 24 November 2025. Puluhan korban sudah ditemukan dan dievakuasi, banyak yang rusak, beberapa kehilangan anggota tubuh,” ceritanya.
Salah satu evakuasi paling berat ia alami di Desa Pardamean, lokasi temuan korban paling jauh. Jalur menuju titik itu tertutup lumpur setinggi lutut.
Tim harus menggotong jenazah menggunakan tandu, menembus rimbunan material banjir bandang. “Sampai di perkebunan sawit, mayat baru bisa dipindahkan ke perahu karet, lalu ke ambulance,” kenangnya.
Saat itu, jumlah tim SAR yang turun masih terbatas. Hanya Basarnas dan FAJI Tapsel yang bisa bergerak cepat, sementara tiga jenazah harus dievakuasi pada hari yang sama.
“Selesai jam sembilan malam, Bang. Kami kerja dalam gelap, senter hampir habis, lumpur makin berat,” kata Decky.
Di Tengah Bencana, Ada Hening yang Menggetarkan
Meski sudah menangani banyak jenazah selama operasi, Decky mengakui bahwa menemukan jenazah yang masih dalam kain kafan membawa perasaan berbeda. Ada sunyi yang menggantung di tengah hiruk pikuk bencana.
Bagi tim SAR, setiap temuan bukan sekadar angka dalam laporan harian. Itu adalah keluarga yang menunggu kepastian, duka yang belum selesai, dan kehormatan terakhir yang masih harus dijaga meski bencana datang semena-mena.
Evakuasi masih berlanjut hingga kini. Sungai Garoga belum sepenuhnya bersih dari material banjir bandang, dan potensi longsor susulan masih mengintai. Namun bagi relawan seperti Decky, berhenti bukan pilihan.
“Selama masih ada korban yang belum ditemukan, kami tetap turun,” ujarnya singkat.
