Karo (ANTARA) - Warga Kabanjahe dan sekitarnya kini menghadapi kesulitan mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax. Minimnya pasokan ke sejumlah SPBU diduga kuat akibat masih terganggunya distribusi imbas bencana banjir yang melanda Kota Medan beberapa waktu lalu.
Pantauan di salah satu SPBU di Kabanjahe Minggu pagi (30/11/2025), pasokan BBM yang datang pada dini hari sekitar pukul 02.00 WIB langsung diserbu masyarakat. "Hanya dalam waktu kurang dari sembilan jam, sekitar pukul 11.00 WIB stok pertalite dan pertamax kembali ludes," ucap Maria br Tarigan petugas SPBU Kabanjahe.
Kondisi ini membuat antrean kendaraan mengular sejak subuh, terutama truk dan minibus yang hanya mengandalkan BBM jenis solar. Petugas SPBU memperkirakan solar pun tidak akan bertahan hingga malam hari jika antrean terus memanjang.
Di tengah keterbatasan BBM ini, muncul fenomena baru: pedagang minyak dadakan. Mereka datang membawa jerigen, membeli BBM hingga 20 liter, lalu menyulingnya ke dalam botol air mineral ukuran besar untuk dijual kembali. Harga yang ditawarkan pun melambung tinggi, mencapai Rp25.000 per liter—dua kali lipat lebih dari harga resmi pertalite.
"Saya tadi dapat dari ibu-ibu yang mendapatkan pertalite dari SPBU Pertamina dengan jerigen dan menjualnya kembali dengan ukuran botol air mineral seharga 25 ribu," ucap Arif Purba, warga Kabanjahe.
Masyarakat berharap pemerintah dan Pertamina segera mempercepat normalisasi pasokan agar aktivitas warga, termasuk transportasi logistik dan perekonomian daerah, tidak semakin terganggu.
