Kepala desa Silaiya Tanjung Leuk, Kecamatan Sayur Matinggi Abdul Jalil Hasibuan sampaikan, kepada Antarasumut, di Sipirok, Rabu.
Untuk Sayur Matinggi harga jual gabah coklat Rp 18 ribu/kilo di tingkat pengumpul atau turun Rp 12 ribu/ kilo dari harga Rp30 ribu/kilo pada saat harga empat bulan kebelakang.
Sementara getah karet juga mengikuti penurunan harga sebesar Rp 3 ribu/kilo dari harga jual ditingkat pengumpul seharga Rp 9 ribu/kilo dari harga jual sebelumnya Rp 12 ribu /kilo.
"Harga getah karet sempat bertahan Rp 12 ribu/kilo itupun diakhir tahun 2016 tepatnya bulan Desember,"katanya.
Dari Desember 2016 harga jual getah karet seharga Rp 12 ribu/kilo menjadi menurun menjadi Rp 9 ribu / kilo sampai minggu terakhir Maret 2017.
Sementara untuk harga coklat di Kecamatan Batang Angkola, Tapanuli Selatan ada selisih harga jual coklat di tingkat pengumpul senilai Rp 2 ribu per kilonya dibanding harga jual coklat di Sayur Matinggi Rp 18 ribu/kilo.
"Gabah coklat di tingkat pengumpul di Batang Angkola seharga Rp 20 ribu/kilo dan getah karet Rp 9 ribu/kilo," kata Kepala desa Purba Nauli, Batang Angkola, Hasan Basri, di Batang Angkola, Rabu.
Masyarakat didua kecamatan Sayur Matinggi dan Batang Angkola kata kepala desa Silaiya Tanjung Leuk Abdul Jalil dan kepala desa Purba Nauli berharap harga kedua komoditi coklat dan getah karet itu bisa normal.
"Harapan warga harga coklat normal diharga jual Rp 30-32 ribu/kilo, dan harga jual karet Rp 15 ribu / kilo seperti sedia kala untuk bisa menutupi kebutuhan sehari-hari,"kata keduanya.
Terkait turunnya harga coklat masyarakat Sayur Matinggi menyadari produksi buah coklat masyarakat mengalami penurunan kwalitas.
"Keyakinan kami menurunnya kwalitas gabah coklat diakibatkan faktor cuaca yang tidak menentu atau cuaca ekstrem,"kata Abdul Jalil.
Sementara penurunan harga karet dia mengatakan tidak mengetahuinya secara pasti.
"Jelasnya harapan warga adanya intervensi pemerintah terhadap harga getah karet tersebut,"kata Jalil.
Pewarta: Kodir PohanEditor : Akung
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.