Simalungun, 7/11 (Antarasumut) - Setelah pensiun dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri) tahun 2015 silam, Brigadir Jenderal Polisi (Purn) Victor Edison Simantak kembali ke kampung halamannya di Nagori Bah Jambi, Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi, Kabupaten Simalungun.

Atas kedatangannya itu, Minggu (06/11), mantan Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Tipideksus) Bareskrim Mabes Polri ini, menggelar silaturahmi sederhana bersama masyarakat Nagori Bah Jambi. 

Acara tersebut digelar di Lapangan Sepakbola Bah Jambi. Ratusan masyarakat, yang sebagian besarnya merupakan teman kecil dari Victor Simanjuntak, terlihat antusias untuk meramaikan acara tersebut.

Keika ditemui di tengah-tengah acara, pria yang kini menginjak usia 59 tahun itu menuturkan, bahwa kedatangannya tersebut tidak lain hanya untuk melihat kehidupan masyarakat di Nagori Bah Jambi. 

Pasalnya, sejak tahun 1970, Victor sudah meninggalkan kampung halamannya itu.

"Saya lahir di sini, dan juga besar di sini. Itu sebabnya saya harus kembali ke sini. Nah, waktu mau kembali ke sini, masyarakat di sini bilang kita akan membuat acara. 

Jadi saya pikir, acara yang tepat untuk bersilaturahmi sambil bersantai itu, ya olahraga. Sekarang ini kita mau berolahraga jalan santai," ujarnya.

Victor berpendapat, bahwa kehidupan di Nagori Bah Jambi sudah berbeda dengan yang dulu. 

"Setelah olahraga saya akan bicara, bahwa dulu saya lahir dan besar di sini. Saya ingin melihat apa yang terjadi di sini setelah sekian tahun saya tinggalkan. Dulu, kehidupan antara karyawan dengan staff perkebunan di sini sangat berbeda. Tetapi sekarang sudah ada sedikit perubahan," ucapnya lagi. 

"Kesenjangan-kesenjangan itu memang perlu dirubah. Kesejahteraan masyarakat juga sudah perlu diperhatikan, dengan pola kekeluargaan dan kekerabatan yang harus tetap terjaga," imbuh Victor.

Meski begitu, Victor sedikit kecewa dengan tidak adanya pembangunan di Nagori Bah Jambi. "Dulu waktu saya sekolah, di sini masih banyak fasiltas. Tetapi sekarang sudah Kelapa Sawit semua. Kalau dimana-mana ada Kelapa Sawit, kenapa justru jadi rugi? 

Pendapatan justru jadi berkurang. Pembangunan pun tidak ada. Fasilitasnya masih sama seperti pada tahun 1960 ketika saya tinggalkan,” decaknya.

“Melihat kondisi yang seperti ini, saya terdorong untuk memperbaiki Sumut. Di kepolisian, saya dikenal sebagai pemberantas
korupsi. Masalah yang paling besar di Sumut ini kan korupsi, jadi saya ingin memberantasnya. Korupsi dihilangkan dulu, supaya kita bisa membangun,"

katanya panjang lebar. Menurut Victor Simanjuntak, pembangunan itu harus diawali dari desa, karena Negara yang baik itu adalah negara yang ekonominya kuat di tingkat pedesaan.

"Yang kita bangun itu di bawah, di desa. Negara yang baik akan kuat kalau ekonomi di tingkat Desa kuat. Kenyataannya, di Indonesia tidak seperti itu, tetapi ada kesenjangan. 

Saya pernah membaca sebuah buku. Katanya, satu persen Bangsa Indonesia mengusai 50 persen kekayaan Indonesia, dan 10 persen Bangsa Indonesia menguasai 77 persen kekayaan Indonesia. 

Jadi, hanya 22 persen kekayaan yang dikuasai oleh 90 persen bangsa Indonesia. Itu menunjukkan bahwa kesenjangannya 
sangat jauh. 

Desa itu tidak boleh miskin, karena pondasi negara adalah desa. Kita akan kaji semua, khususnya Sumut. Jangan sampai negara sengsara, sementara sumber dayanya demikian besar," jelasnya lagi.



Pewarta: Irsan Mulyadi
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026