"Anggaran itu masing-masing untuk KPU sebesar Rp27,5 miliar, Panwas Rp.9 miliar, dan sisanya untuk biaya pengamanan mengingat luasnya wilayah yang mencapai 20 kecamatan," kata Bupati Tapanuli Tengah, Sukran Tanjung di Pandan, Senin.
Ia mengatakan, besarnya anggaran tersebut akan sia-sia dan terbuang percuma jika masyarakat Tapanuli Tengah tidak mampu memilih sosok pemimpin yang dapat membawa kemajuan pembangunan dan kesejahteraan di Tapteng.
Karena jika anggaran sebesar Rp 40m itu dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur, pastinya sudah sangat dirasakan masyarakat faedahnya.
Begitu juga jika dibagikan sebagai modal usaha bagi masyarakat, pastinya sudah mampu menghasilkan pengusaha-pengusaha kecil yang sejahtera.
Akan tetapi karena anggaran itu harus dialokasikan untuk biaya pelaksanaan pesta demokrasi pemilihan langsung bertajuk Pilkada sesuai aturan hukum di Indonesia, terpaksa anggaran tersebut harus dialokasikan.
"Kalau saja hanya dengan suit atau toss saja kita bisa memilih, sehingga biaya sebesar ini tidak keluar, pasti anggaran Rp 40 miliar itu sudah bisa kita manfaatkan. Tapi sayangnya tidak bisa, pasangan bupati harus dipilih rakyat secara langsung," katanya.
Agar anggaran yang dikeluarkan ini tidak sia-sia, ia mengajak masyarakat untuk lebih jeli dan lebih selektif dalam memilih pasangan calon yang dinilai mampu membawa daerah itu kearah kemajuan pembangunan yang lebih baik, masyarakat yang lebih sejahtera dan bermartabat.
"Saat ini banyak balon Bupati bermunculan, baik yang berasal dan berdomisili disini, putra daerah di perantauan dan bahkan tokoh dari luar daerah. Jika masyarakat terbuai, namun ternyata memilih sosok yang tidak amanah, maka masa depan Tapanuli Tengah minimal selama 5 tahun ke depan kemungkinan akan suram," katanya.
Untuk itu lanjut dia, pilihlah sosok calon bupati yang santun, amanah, dekat dengan masyarakat, tahu dan paham seluk beluk Tapanuli tengah hingga ke akar-akarnya, religius, nasionalis dan yang sudah berpengalaman.
Karena jika tidak, maka konsep pembangunan yang sudah dimulai oleh bupati-bupati sebelumnya akan mentah kembali dan sia-sia, proses pembangunan pun akan terpaksa diulang dari dasar.
"Jika begitu, kapan lagi Tapanuli Tengah ini akan bergerak maju dari status daerah tertinggal seperti sekarang," katanya.
Pewarta: Juraidi dan JasonEditor : Ribut Priadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.