"Meski pesimis, kami tetap menaruh harapan," kata Dekman Sirait (49), warga Kelurahan Tiga Raja, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Selasa.
Putra daerah kelahiran Kota Parapat itu mengatakan, sejak 40 tahun lalu tidak melihat adanya perkembangan yang siginifikan di kota wisata ini.
Pembangunan lebih dilakukan oleh para pelaku usaha atau wisata di lokasi kepemilikan lahan, sedangkan dari pemerintah tidak dinikmati.
"Lihatlah bangunan milik pemerintah, tidak terurus, program promosi pariwisata sangat kurang, sehingga kunjungan semakin minim," kata Dekman.
Sebagian warga juga menyampaikan kekecewaan dengan informasi kedatangan yang kerap berubah-ubah, sehingga mereka kurang merespon.
Spanduk ucapan "Selamat Datang" hanya beberapa saja dengan ukuran yang kecil, dan kebanyakan dari organisasi masyarakat, ucapnya.
Kegiatan kemasyarakat juga tidak ada, bahkan kebanyakan masyarakat menjalankan aktivitas seharian dengan berjualan, dan nongkrong di kedai.
Menurut tokoh pemuda setempat, Jesron Sihotang (46 tahun), sudah menjadi karakter masyarakat Kota Parapat yang tidak begitu antusias dengan kedatangan pejabat negara.
"Ya...karena tidak memberi dampak nyata dengan perkembangan di Parapat. Usai acara, Parapat tetap seperti ini (sepi)," kata Jesron.
Dia berharap kedatangan Presiden Jokowi dan program pengembangan kawasan Danau Toba dengan pembentukan badan otorita bisa memberikan harapan baru yang nyata bagi masyarakat sekitar. ***4***
(T.KR-WRS/B/S015/S015) 01-03-2016 12:11:44
Pewarta: WaristoEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026