"Masih banyak lagi lahan mangrove yang harus diperbaiki dengan penanaman kembali seperti yang dilakukan Persatuan perempuan Nelayan Indonesia ini"Langkat, Sumut, 9/10 (Antara) - Persatuan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) Kabupaten Langkat Sumatera Utara melakukan penanaman mangrove (bakau) dari berbagai jenis di lahan kritis yang ada di Dusun Lubuk Kertang Kecamatan Brandan Barat.
"Kita tanam mangrove guna penghijauan lahan kritis terutama di register L/8 Lubuk Kertang," kata Ketua Persatuan Perempuan Nelayan Indonesia Langkat Ratna Keliat di Brandan Barat, Jumat.
Ratna menyebut ada seluas 800 hektare kawasan itu yang perlu menjadi perhatian untuk segera ditanami mangrove.
Untuk itulah kelompoknya bersama dengan berbagai elemen warga lainnya yang peduli terhadap lingkungan terutama mangrove melakukan penanaman dilahan tersebut.
Kegiatan penanaman itu bertujuan untuk mengembalikan hutan mangrove yang telah lama rusak akibat alih fungsi lahan dan penebangan kayu bakau ilegal oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Ratna Keliat mengungkapkan berdasarkan data Persatuan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) di Desa Lubuk Kertang saja terdata sedikitnya 1.200 hektare lahan mangrove yang rusak (kritis).
Akibat rusaknya ekosistim hutan bakau itu tidak saja merusak lingkungan yang menyebabkan banjir tapi juga mengurangi penghasilan nelayan setempat.
Ia juga menyampaikan sejak tahun 2009 yang lalu, sejumlah oragnisasi lingkungan dan LSM Langkat telah melakukan rekondisi kawasan hutan mangrove namun baru 500 hektare saja telah kembali menjadi hutan mangrove yang hijau.
"Masih banyak lagi lahan mangrove yang harus diperbaiki dengan penanaman kembali seperti yang dilakukan Persatuan perempuan Nelayan Indonesia ini," katanya.
Sementara itu Presidium Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Tajruddin Hasibuan mengungkapkan saat ini banyak pihak yang peduli terhadap penghijauan kembali hutan mangrove Langkat.
"Selain PPNI, KNTI, ada juga KIARA, termasuk dompet Dhuafa, maupun juga Matahari Store, ini sangat membanggakan," ujarnya.
Diharapkan melalui berbagai kepedulian itu maka hutan mangrove Langkat akan kembali hijau.
"Kita ingin melihat kembali bagaimana hutan mangrove Langkat sempat hijau di tahun 1970-1980 an, sebelum akhirnya dirambah dijadikan pertambakan, perkebunan kelapa sawit, maupun juga dijadikan kayu arang untuk diekspor ke berbagai negara waktu itu," katanya. ***1***
(T.KR-IFZ/B/A043/A043) 09-10-2015 11:59:01
Pewarta: Imam FauziEditor : Ribut Priadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.