Langkat, Sumut, 13/4 (Antara) - Hasil tangkapan ikan nelayan di Desa Tapak Kuda, Kecamatan Tanjungpura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, mencapai dua ton per harinya dengan memakai umpan binatang laut sejenis gurita atau soket.

"Nelayan di sini melaut memakai umpan berupa binatang laut sejenis gurita atau soket," kata salah seorang nelayan Desa Tapak Kuda Kecamatan Tanjungpura Ilon, di Tanjungpura, Senin.

Ilon menjelaskan di sini ada 500 nelayan dimana 60 persennya mereka melakukan penangkapan ikan dengan cara merawai dengan memamfaatkan soket binatang laut sejenis gurita dan hasilnya sungguh sangat memuaskan bisa mencapai dua ton per harinya.

Sementara yang 40 persen lagi nelayan di sini menggunakan alat tangkap ikan dengan cara menjaring, memukat layang, melanggai dan membubu.

Ada 40 sampan nelayan Tapak Kuda setiap harinya, mencari ikan dengan cara merawai, katanya.

Ia juga menjelaskan dalam satu sampan merawai ikan, diperlukan anggota paling sedikit tiga orang nelayan. Dimana satu sampan itu, dipergunakan 2.000 mata pancing, untuk menangkap ikan.

Untuk 2.000 mata pancing yang diberi umpan harus berjarak tiga meter per umpan atau per mata pancingnya.

Sementara kebutuhan soket untuk 2.000 mata pancing itu, dibutuhkan 12 Kg soket sebagai umpan.

"Kita gunakan umpan soket atau sejenis gurita, dikarenakan soket itu lebih liat, tahan lama di air, ketimbang menggunakan cumi-cumi dan sejenis ikan lainnya untuk umpan merawai," katanya.

Selain itu harga soket lebih murah, dan mudah didapat nelayan setempat, sambungnya.

Sedangkan ikan yang didapat nelayan selama melaut itu diantaranya ikan kerapu guling,ikan pekco, ikan pari dan lainnya. Untuk sekali melaut merawai ikan, dibutuhkan biaya berkisar Rp400.000.

Nelayan yang mencari soket, setiap hari mencapai 100 kilogram. Selain itu juga, soket juga dikirim kepada agen penampung, yang selanjutnya soket itu dijual ke Medan.***3***
(T.KR-IFZ/B/A. Lazuardi/A. Lazuardi)

Pewarta: Imam Fauzi
:

COPYRIGHT © ANTARA 2026