Oleh Joko Gunawan
   Labuhanbatu, Sumut, 11/2 (Antara) - Keberadaan ikan terubuk di wilayah pesisir pantai Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara kian hari semakin langka.

        Pernyataan itu disampaikan Ketua Forum Masyarakat Desa Pantai (Formadep) Kabupaten Labuhanbatu, Thamrin Ritonga (65) di Rantauprapat, Rabu.  
   Kini, untuk mendapat satu ekor setiap harinya nelayan terkadang tidak bisa, padahal dahulu setiap nelayan turun ke sungai, akan memperoleh 10 ekor sekali menjaring.

        Menurut Thamrin punahnya ikan diperairan sungai Barumun, Kabupaten Labuhanbatu dan Labuhanbatu Selatan (Labusel) dengan harga jual Rp150.000 perkilonya serta telur mencapai Rp1 juta lebih itu akibat berbagai faktor alam dan manusia.

        Jika jaman penjajahan Belanda puluhan tahun silam, masih diberlakukan nelayan hanya boleh memakai jaring dengan diameter lubang minimal 4 inci. Namun saat ini hal tersebut tidak berlaku lagi.

        Selain itu sebut Ketua Formadep, perairan Tanjung Kuakal, Desa Sei Rakyat dengan Desa Bagan Bilah dimana ikan tersebut bertumbuh kembang, kini menjadi lintasan boat bermesin yang menyebabkan sulitnya telur ikan terubuk menetas.

        "Faktor lain akibat limbah, tapi itu kecil. Ada juga akibat berkurangnya areal persawahan dimana saat panen ikan berkembang biak. Saat ini, jikapun terjaring, paling besar lima ons," ujar Thamrin Nasution.

        Jika dahulunya ikan terubuk menjadi mata pencaharian andalan, kini sebatas usaha sampingan. Ia berharap Pemkab Labuhanbatu mencari jalan membudidayakan ikan terubuk yang sempat menjadi santapan raja-raja terdahulu.

        Apalagi katanya, Pemkab Labuhanbatu menjadikan ikan terubuk sebagai salah satu logo pemerintahan. "Agar sesuai dengan logo pemkab serta tidak hilangnya ikan kegemaran warga Labuhanbatu, terlebih telurnya," paparnya. ***1***

(T.KR-JKG/B/Suparmono/Suparmono) 11-02-2015 13:41:35

Pewarta:       Joko Gunawan
:

COPYRIGHT © ANTARA 2026