Kabid Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Ateng Hartono di Medan, Kamis mengatakan, penurunan nilai devisa Sumut dipastikan dipicu melemahnya harga jual barang ekspor karena secara volume justru mengalami peningkatan.
Hingga November 2013, volume ekspor sudah mencapai 8,917 juta ton dari posisi sama 2012 sebesar 7,868 juta ton. "Meski nilai ekspor di November mengalami kenaikan 2,31 persen dari Oktober, tetapi nyatanya belum mampu mendongkrak secara total devisa Sumut," kata Ateng.
Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy irwansyah mengakui masih adanya tren melemah nilai ekspor harga karet dan komoditas lainnya.
Harga SIR 20 di bursa Singapura 31 Desember lalu untuk pengapalan Januari 2014 bahkan masih ditutup di posisi 2,265 dolar AS per kg. Akibat turunnya harga jual, devisa dari karet semakin tertekan.
Data BPS mengungkapkan, devisa karet Sumut 2013 per November turun 11,67 persen dari 2012 atau hanya 1,931 miliar dolar AS.
"Mudah-mudahan tahun ini devisa naik karena ada harapan harga karet mengalami kenaikan walau tidak besar dari harga 2013," katanya. ***2***
(T.E016/C/S. Suryatie/S. Suryatie)
Pewarta: Evalisa Siregar:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.