Medan, 9/7 (Antara)-Harga bahan olah karet (bokar) di pabrikan Sumatera Utara kian melemah atau sudah tinggal di kisaran Rp16.000 per kg akibat tertekannya lagi harga ekspor komoditas itu.

"Akhir Juni, harga bokar masih Rp17ribuan per kg, tetapi terus turun karena harga ekspor tertekan lagi atau tinggal 2,178 dolar AS per kg di posisi tanggal 8 Juli dari 2,229 dolar AS per kg sebelumnya,"kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah, di Medan, Selasa.

Harga bokar diprediksi turun lagi karena ada perhitungan harga ekspor komoditas itu juga semakin melemah di pasar internasional.

Penurunan harga karet terjadi terus menerus sejak Mei dimana hal itu merupakan dampak dari krisis ekonomi di berbagai negara khususnya negara pembeli utama seperti China dan Amerika Serikat.

"Melihat harga yang terus tertekan, harga karet bisa seperti di tahun 2012 atau hanya dua dolar AS bahkan bisa jadi di bawah dua dolar AS per kg,"katanya.

Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Hajizi, mengatakan, nilai ekspor karet dan barang dari karet Sumut pada Januari-Mei 2013 masih tetap lebih rendah atau tinggal 964,022 juta dolar AS dari periode sama tahun lalu yang mencapai 1.067 miliar dolar AS.

Penurunan devisa itu dipastikan dipicu melemahnya harga jual karena berdasarkan data masih terjadi peningkatan volume ekspor.

Data Gapkindo Sumut mengungkapkan, pada triwulan I, ekspor karet dari anggota Gapkindo Sumut naik 9,64 persen menjadi 130.090.224 kg.

Petani karet di Labuhanbatu, Sumut, K Siregar menyebutkan, harga getah hanya tinggal di kisaran Rp7.500 per kg dari akhir Juni yang masih Rp8.000an per kg.

Harga yang turun itu semakin menyulitkan petani karena produksi juga lagi anjlok akibat musim kering/trek.

"Pasokan semakin ketat karena di Puasa Ramadahan, petani biasanya mengurangi kegiatan menderes (mengambil getah),"katanya.(E016)

Pewarta: Evalisa Siregar
:

COPYRIGHT © ANTARA 2026