Jakarta, 16/6 (ANTARA) - Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kurdi Mustofa meminta pengurus wilayah dan daerah IPHI untuk mengubah pola pikir organisasi massa itu dari gerakan dakwah lisan ke dakwah perbuatan.

"Alumni haji itu jangan lagi cuma sekedar duduk dan berdoa saja. Mereka harus pula berkontribusi terhadap umat lewat perbuatan-perbuatan nyata," kata Kurdi kepada wartawan menjelang acara syukuran hari lahir ke-23 IPHI di Jakarta Convention Center (JCC), Minggu malam (16/6).

Acara di JCC dihadiri sedikitnya 1500 pengurus IPHI pusat dan daerah dari seluruh Indonesia. Sebelumnya, rapimnas IPHI diselenggarakan di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta setelah pembukaan pada Jumat malam (15/6) oleh Ketua Dewan Pembina IPHI, Djoko Santoso (Panglima TNI 2007-2010).

Kurdi Mustofa mengatakan tujuan Rapimnas I IPHI ini sebagai refleksi dan evaluasi visi program yang telah dijalankan selama 2012-2013. Visi IPHI dalam rapimnya kali ini di sekitar upaya memelihara kemabruran haji dan kebajikannya dari dakwah lisan ke dakwah perbuatan.

"Para pengurus IPHI di pusat dan daerah melaksanakan tiga program prioritas, pendidikan, ekonomi dan kesehatan," kata Kurdi Mustofa, purnawirawan jenderal bintang dua dan sebelumnya di Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat (Disbintalad). Tiga IPHI daerah menunjukkan prestasi luar biasa, yakni Malang, Klaten dan Bogor.

IPHI Malang aktif melaksanakan aktivitas pengembangan ekonomi termasuk industri-industri produk minuman dan makanan dan rumah-rumah sakit, IPHI Klaten juga sudah mengoperasikan sejumlah rumah sakit sedangkan IPHI Bogor sukses dengan bidang pendidikan sehingga sekolah yang dikelola pengurusnya punya reputasi internasional.

IPHI pusat menyambut gembira kinerja pengurus IPHI Papua yang tidak lelah melakukan pengembangan dan membuka kepengurusan hingga ke kabupaten-kabupaten dalam kondisi geografis tidak mudah.

"IPHI Papua itu luar biasa, pengurusnya tak lelah terbang ke sana ke mari memperkuat kepengurusan di tingkat daerah," kata Kurdi.

Meski demikian, menurut Ketua Umum IPHI itu, walau secara legitimasi gerakan IPHI dapat dikatakan sudah dapat dilihat secara nasional, namun secara eksistensi masih belum dapat diperhitungkan.

"IPHI memiliki pimpinan kepala daerah di berbagai pengurus wilayah dan daerah namun eksistensinya belum dapat dirasakan secara menyeluruh oleh umat. Untuk itu dalam Rapimnas kali ini kami telah mengevaluasi kembali rumusan kebijakan organisasi," kata Kurdi.

Dengan potensi jumlah haji 4,7 juta IPHI juga diharapkan mampu mengelola menjadi sebuah momentum untuk menggerakan lebih lanjut potensi yang ada.

"Kita punya 4,7 juta haji,lalu untuk apa? Apa kita menjadi model haji Muhiddin (salah satu artis sinetron) atau haji pejuang? IPHI harus berkontribusi bagi bangsa," demikian Kurdi Mustofa.

IPHI didirikan melalui muktamar haji padal 20-22 Maret 1990 di Jakarta, dan merupakan organisasi kebajikan bersifat independen, berakidah Islam, dan berasaskan Pancasila.
Ormas ini memelihara dan mengupayakan pelestarian haji mabrur guna meningkatkan partisipasi umat dalam pembangunan bangsa yang diridhoi Allah SWT.

IPHI melaksanakan penyuluhan, pembimbingan, dan pembinaan kepada calon jemaah haji dan para haji Indonesia serta berfungsi sebagai wahana penghimpun potensi haji, menyerap dan penyalur aspirasi umat, berupaya ikut serta menyukseskan program pembangunan bangsa, serta sebagai sarana mempererat ukhuwah Islamiyah.(E004)

Pewarta: Edi Utama
:

COPYRIGHT © ANTARA 2026