Salah seorang tokoh masyarakat Belawan, Hamidi dalam orasinya menyebutkan, jalan tersebut, saat ini kelihatan berlubang-lubang cukup besar dan dipenuhi lumpur.
"Tak obahnya seperti kubangan kerbau dan sulit dilalui kenderaan roda dua, mobil angkutan umum, truk bawa barang, mobil pribadi dan mobil dinas," ujarnya.
Dia mengatakan, jalan raya yang kelihatan "kupak kapik" itu sepanjang lebih kurang 1 kilometer.
Jalan lintas menuju ke Pelabuhan Belawan, sudah hampir satu tahun lamanya dibiarkan begitu saja oleh Pemkot Bedan dan tidak pernah diaspal.
Sehingga warga Medan yang pergi ke Belawan, sering terjebak macet dan bahkan ada yang tabrakan di tengah jalan yang hancur tersebut.
"Kita juga merasa malu melihat kondisi jalan utama di Kota Belawan seperti itu joroknya, dan pemerintah kurang peduli dengan kondisi sarana transfortasi tersebut," katanya.
Padahal, jelas Hamidi, Kota Belawan dikenal sebagai pintu gerbang pelabuhan internasional, dan tempat mengimpor dan mengekspor barang.
Seharusnya pembangunan jalan di Belawan diprioritaskan, dan jangan sampai diabaikan.Ini jelas akan merugikan pembangunan di Provinsi Sumut.
"Jalan yang hancur tersebut diharapkan dapat diperbaiki dan diaspal secepatnya, dan kalau boleh sebelum memasuki bulan Ramadhan," katanya.
Terjadi kemacetan
Akibat aksi damai tersebut, terjadi kemacetan di jalan raya Medan-Belawan dan sempat menjadi perhatian masyarakat yang melintas di lokasi itu.
Para pengunjukrasa, juga membawa spanduk yang bertuliskan antara lain, "Kepala Dinas Binamarga Sumut dan Dinas PU Medan Tidak Punya Hati Menjalankan Roda Perekonomian.
"Hati-hati Anda Memasuki Kawasan Kubangan Kerbau".(M034)
Pewarta: Munawar Mandailing:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.