Medan, 20/1 (ANTARA) - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) berupaya maksimal untuk merealisasi target pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) yang sahamnya sebagian dimiliki petani pada tahun ini.

"Harapan Apkasindo, pembangunan PKS yang sahamnya juga dimiliki petani itu bisa dibangun sesuai dengan target, yakni pada tahun ini," kata Ketua Umum Apkasindo, Anizar Simanjuntak, di Medan, Minggu.

Pembangunan PKS itu dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan petani dengan pengendalian fluktuasi harga jual, katanya.

Dia mengakui bahwa pembangunan PKS itu juga melibatkan atau bekerja sama dengan investor karena pembangunan PKS membutuhkan dana yang terbilang besar.

"Yang pasti ada saham petani melalui koperasi di PKS itu. Bahkan, direncanakan saham koperasi petani itu di PKS bisa terus bertambah," katanya.

Pembangunan PKS itu dilakukan Apkasindo untuk bisa mengendalikan fluktuasi harga TBS sawit, khususnya milik petani, dan sekaligus mengajar petani menjaga mutu buah yang dijual.
Selama ini, menurut dia, PKS di berbagai daerah dinilai tidak pernah menerapkan harga patokan yang ditentukan sehingga merugikan petani.

Harga yang diberikan kepada petani selalu di bawah ketentuan dengan dalih kualitas TBS petani kurang bagus.

Diakui juga bahwa petani sering membuat kesalahan dengan lebih mementingkan volume dengan cara mencampur sedikit buah yang belum matang pada TBS yang dijual ke PKS, dan itu sering dijadikan alasan pengusaha PKS bahwa mutu buah petani kurang bagus.

"Kalau pun bagus, petani hampir tidak pernah dikasih insentif seperti yang sudah diatur oleh Pemerintah," katanya.

Menurut Anizar, rencananya PKS itu akan dibangun di beberapa daerah.

"Akan tetapi, akhirnya semua kembali kepada minat investor dan saat ini Apkasindo terus menjajaki peluang itu ke beberapa investor yang seja awalnya menyambut gembira kerja sama itu," katanya.

Sejalan dengan rencana pembangunana PKS, Apkasindo mendesak pemerintah kota/kabupaten memberikan perhatian dan mendukung kinerja petani kelapa sawit dengan membangun infrastruktur jalan.

Selama ini, kata dia, petani kesulitan mengakses perkebunan mereka dan mengangkut hasilnya ke pasar karena sulitnya akses jalan dan itu membuat biaya relatif tinggi.

Direktur Asian Agri, Semion Tarigan, pada suatu kesempatan bertemu wartawan, mengatakan bahwa perusahaan itu terus membuat program pembinaan terhadap petani untuk meningkatkan produktivitas.

"Kerja sama dengan petani terus dijalin erat agar sama-sama berproduksi dengan baik. Bisnis sawit masih menjanjikan sehingga kerja sama dengan petani swadaya dan petani plasma dan KKPA (Kredit Koperasi Primer untuk Anggota) yang terus diperkuat," katanya.

Pewarta:

Editor :


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2013