Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina), Atika Azmi Utammi Nasution menekankan pentingnya menyukseskan program Quick Win Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk mempercepat pencapaian target pembangunan keluarga berkualitas.
Hal itu disampaikan Atika pada kegiatan fasilitas intensifikasi dan integrasi pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) di Kelurahan Muarasoma, Kecamatan Batang Natal, Selasa, (12/8)
Wakil bupati menjelaskan kemauan masyarakat menekan angka kelahiran menjadi titik penting dalam upaya mencapai target pembangunan keluarga berkualitas.
"Kalaupun penyuluh KB-nya sudah ke lapangan, babak belur, jauh-jauh menghitung prevalensi semua, kalau masyarakatnya tidak mendukung, ini tentu akan sia-sia," katanya
Dia meyakini bahwa setiap anak punya rezeki sendiri, tapi kondisi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat harus menjadi pelajaran.
"Dua anak itu lebih baik, sehingga atensi orang tua membesarkan anaknya itu cukup, kebutuhan ekonominya tidak dipada-padakan," sebutnya.
Menurut dia, bagi masyarakat dengan ekonomi yang mapan sah-sah saja mempunyai anak lebih dari dua. Sebab, biaya pendidikan mulai tingkat dasar sampai sekolah tinggi, bahkan ada yang sampai S-2, sudah tersedia.
"Banyak juga yang telah menyiapkan usaha untuk anak-anaknya, itu bagi mereka yang ekonominya sudah sangat mapan," tegas dia.
Untuk itu, Wabup Atika mengingatkan pentingnya menyukseskan program Quick Win, yakni Taman Asuh Anak (Tamasya), Gerakan Orang Tua Cegah Stunting (GENTING), Gerakan Ayah Teladan (GATE), Lansia Berdaya, dan AI-Super App tentang Keluarga dengan tujuan melahirkan generasi Indonesia Emas 2045.
"Jadi, masa depan anak-anak sangat ditentukan oleh kemauan, oleh komitmen kita bersama dalam menyukseskan agenda besar nasional," jelasnya.
Pada kesempatan itu, Wabup Atika juga meminta para kepala desa aktif mengimbau masyarakat untuk menggunakan kontrasepsi sehingga jarak lahir dan jumlah anak selaras dengan kemampuan ekonomi dalam mengakses pendidikan, kesehatan, dan lainnya.
"Kita bukan ingin mengurusi internal rumah tangga orang lain, tapi dengan alat kontrasepsi bisa mengontrol angka kelahiran sehingga atensi terhadap anak baik secara materi maupun moral lebih berkualitas," pesan dia.
Atika mengungkapkan, program ini bukan inisiatif bupati maupun wakil bupati, melainkan telah melalui kajian panjang dan melihat fenomena munculnya bonus demografi yang hanya terjadi sekali dalam kisaran 800 tahun.
Editor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2025