Pedagang di pasar tradisional Medan mengeluhkan tingginya harga telur ayam yang kini mencapai Rp1.800-Rp2.000 per butir.

"Sebelumnya masih ada telur yang harganya Rp1.000-Rp1.100 per butir. Sekarang sudah tidak ada," ujar Isma, pedagang telur di Pasar Pulo Brayan, Medan, Kamis.

Isma mengaku bingung kenapa harga telur bisa melambung. Hal itu, kata dia, membuat konsumen membatasi pembelian.

Sementara pedagang lain, Niko, menyebut bahwa kenaikan harga telur sudah terjadi sejak dua minggu lalu.

Dia pun berharap harga telur ayam dapat segera terkendali.

"Biasanya, telur yang ukuran besar itu ada di harga Rp1.700 per butir. Saya tidak tahu kenapa bisa naik seperti ini," tutur Niko.
Pedagang seperti Isma dan Niko mendapatkan telur-telur ayam dari para agen.

Jika telurnya bersumber dari kandang sendiri, harga jualnya bisa lebih murah dari rata-rata.

Pedagang bernama Theresia, misalnya, karena telur-telurnya berasal dari kandang ayam sendiri, dia masih dapat menetapkan harga Rp1.400 sampai Rp1.800 untuk setiap butir telur ayam.

"Itu pun sebenarnya agak lebih mahal karena harga standarnya termurah Rp1.200 per butir," kata dia.

Adapun di Sumatera Utara, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), pada Kamis (25/5), mencatat bahwa rata-rata harga telur ayam ras berada di kisaran Rp30.850 per kilogram atau belum berubah dari hari sebelumnya.

Pada hari yang sama, harga telur ayam termahal di Sumatera Utara ada di Kota Gunung Sitoli yaitu Rp36.000 per kilogram dan termurah di Kota Pematang Siantar Rp28.600 per kilogram.
 

Pewarta: Michael Siahaan

Editor : Riza Mulyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2023