Inflasi Sumatera Utara pada Juli menurun atau hanya 0,31 persen dampak turunnya harga beberapa bahan pokok khususnya minyak goreng. 

"Meski tetap inflasi, tetapi melemah dari di Juni yang sebesar 1,40 persen menjadi 0,31 persen pada Juli," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Nurul Hasanudin di Medan, Senin. 

Beberapa komoditas yang harganya menurun khususnya minyak goreng dan ayam ras, membuat inflasi tertahan. 

Harga minyak goreng curah dan kemasan tercatat turun rata-rata Rp300 per kg dari sebelumnya rata-rata Rp13.609 per kg hingga Rp13. 380 per kg. 

Adapun inflasi yang terjadi di Juli didorong naiknya tarif penerbangan dan harga cabai merah. 

Dari lima kota indeks harga konsumen (IHK) di Sumut, inflasi terbesar terjadi di Gunung Sitoli sebesar 1,81 persen, Sibolga 1,07 persen, Padangsidimpuan 0,59 persen, Medan 0,27 persen, dan Pematangsiantar 0,04 persen.

Dia menyebutkan, inflasi di Sumut yang sebesar 0,31 persen itu lebih rendah dari rata-rata nasional yang pada Juli 2022 mengalami inflasi 0,64 persen. 

"Dengan inflasi di Juli sebesar 0,31 persen, membuat inflasi tahun kalender (Januari-Juli 2022) di Sumut menjadi 4,5 persen," katanya.

Ada pun tingkat inflasi tahunan (Juli 2022 terhadap Juli 2021) sebesar 5,62 persen. 

Secara nasional, katanya, inflasi tahun kalender telah mencapai 3,85 persen dan tingkat inflasi tahunan 4,94 persen. 

Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Sumut, Ibrahim, menyebutkan, penurunan inflasi pada Juli sudah diprediksi melihat upaya Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumut yang terus melakukan berbagai upaya untuk menekan lonjakan harga.

Ketersediaan yang banyak di pasar, ujar dia, membuat pembelian bisa terkendali dan mendorong penurunan harga jual.

"Tapi meski bisa dikendalikan, BI tetap memperkirakan sepanjang 2022 inflasi Sumut akan lebih tinggi dari 2021," katanya. 

Bahkan, katanya, inflasi di Sumut berpotensi lebih tinggi dari rentang sasaran tiga plus minus satu persen. 

Peningkatan inflasi pada 2022 didorong oleh banyak faktor seperti mulai meningkatnya pendapatan masyarakat sejalan dengan pulihnya perekonomian.

Kemudian  konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi dan pangan global.

Pewarta: Evalisa Siregar

Editor : Riza Mulyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2022