Wall Street melonjak pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), ketika optimisme bahwa pemerintahan Trump dapat bergerak melonggarkan penguncian dari wabah virus corona dibayangi laporan laba mengkhawatirkan dari JPMorgan dan Wells Fargo.

Penasihat Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan Presiden Donald Trump akan membuat sejumlah pengumuman tentang pembukaan kembali ekonomi AS pada satu atau dua hari mendatang karena krisis kesehatan tampak menurun, meskipun beberapa gubernur negara bagian mengatakan keputusan untuk memulai kembali bisnis terletak pada mereka.

Di negara bagian New York, pusat pandemi, total rawat inap jatuh untuk pertama kalinya sejak awal wabah virus corona baru, menurut Gubernur Andrew Cuomo.

Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 558,99 poin atau 2,39 persen, menjadi ditutup di 23.949,76 poin. Indeks S&P 500 naik 84,43 poin atau 3,06 persen, menjadi berakhir di 2.846,06 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup meningkat 323,32 poin atau 3,95 persen, menjadi 8.515,74 poin.

Nasdaq mencatat kenaikan hari keempat berturut-turut. Di antara dorongan terbesarnya adalah Amazon.com, yang naik 5,3 persen menjadi 2.283,32 dolar AS, rekor tertinggi.

"Pasar naik karena prospek ekonomi segera dibuka kembali dan juga virus corona (kemungkinan wabah) mencapai semacam puncak," kata Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities di New York.

Pasar bisa bersiap untuk penjualan tajam lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang ketika data yang menunjukkan tingkat kerusakan ekonomi dari virus dirilis, katanya. "Kita akan melihat angka (ekonomi makro) yang akan menakutkan, dan itu akan membebani."

Analis telah memperingatkan musim laporan laba yang terik karena tindakan penahanan telah membuat semua kegiatan bisnis terhenti.

Saham JPMorgan Chase & Co dan Wells Fargo & Co membalikkan kenaikan awal menjadi berakhir lebih rendah. Keuntungan kuartal pertama mereka anjlok, dengan kedua bank tersebut menyisihkan miliaran dolar untuk menutupi potensi kerugian pinjaman dari pandemi.

Saham AS pulih dalam sebulan terakhir setelah merosot lebih dari 30 persen dari rekor tertinggi Februari, dibantu oleh stimulus moneter dan fiskal serta tanda-tanda awal stabilisasi dalam jumlah kasus virus corona. S&P 500 masih turun sekitar 16 persen dari rekor penutupan tertinggi 19 Februari.

Dalam hasil laba lainnya, Johnson & Johnson naik 4,5 persen karena melaporkan pendapatan kuartalan yang lebih baik dari yang diperkirakan dan meningkatkan dividen, menandakan stabilitas keuangan pada saat sejumlah perusahaan blue-chips menangguhkan dividen untuk menopang cadangan uang tunai.

Juga meningkatkan saham Apple Inc menguat 5,1 persen karena data menunjukkan pengiriman iPhone ke China sedikit rebound pada Maret setelah jatuh pada Februari.

Para analis memperkirakan pertumbuhan laba S&P 500 turun 10,2 persen pada kuartal pertama tahun lalu, menurut data dari Refinitiv.

Investor juga memperhatikan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) tentang ekonomi global. Ekonomi global berada di jalur untuk kontraksi "tajam" sebesar tiga persen pada tahun ini sebagai akibat dari pandemi Covid-19, jauh lebih buruk daripada selama krisis keuangan 2008-09, menurut World Economic Outlook IMF yang dirilis Selasa (14/4).
 

Pewarta: Apep Suhendar

Editor : Akung


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2020