Medan, 16/8 (Antarasumut) - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berharap petani sawit di daerah itu mendapat dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP seperti yang sudah diterima Mulus Rahayu, petani binaan Asian Agri di Riau.

"Kucuran dana BPDP itu dinilai penting atau mendesak karena sebagai daerah penghasil terbesar kedua setelah Riau, luasan tanaman sawit petani yang perlu di replanting sangat luas," ujar Kepala Dinas Perkebunan Sumut, Herawati di Medan, Selasa.

Dia mengatakan itu pada pembukaan acara Pembinaan Kelembagaan Asosiasi Petani Pekebun, Kelompok Tani dan Koperasi Petani Perkebunan yang digelar DInas Perkebunan bekerja sama dengan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumut.

Acara yang menghadirkan pembicara dari BPDP , Bank Syariah Mandiri, BRI , Apkasindo dan Asian Agri diikuti pejabat dinas perkebunan dan kelompok tani dari kabupaten/kota di Sumut.

Menurut dia, dalam menjalankannya program replanting tanaman sawit petani Sumut atas dana BPDP itu, Sumut bisa belajar dari yang sudah dijalankan di Riau.

" Disbun sudah langsung melihat ke Riau. Di Riau yang menginisiasi adalah dinas kabupaten/kota, jadi kami berharap di Sumut juga seperti itu " katanya.

Program itu dinilai semakin penting dimanfaatkan karena Kementerian Pertanian juga sudah mengisyaratkan tidak ada lagi dana kucuran dana untuk perkebunan sawit menyusul ada BPDP.

" Dinas Perkebunan Sumut berharap petani/kelompok tani memanfaatkan keseriusan BSM, BRI membantu pendanaan dan khususnya kesiapan Asian Agri sebagai pendamping kelompok tani, " ujarnya.

Herawati yang dudampingi Kabid Usaha Tani Disbun Sumut, Syahrida Khairani menegaskan, upaya peningkatan produktivitas dan mutu mutlak sudah harus menjadi fokus petani dalam peremajaan mengingat selain persaingan semakin ketat, pemerintah juga sudah mengisyaratkan tidak ada penambahan luas areal.

Sementara dari luas sawit di Sumut yang seluas 1.203 298 hektare seluas 416 475 hektare milik petani dimana sebagian besar mendesak di replanting baik karena berumur tua dan mengunakan bibit asalan.

" Benih Topaz yang diklaim dan sudah diakui petani plasma di beberapa daerah bahwa memiliki banyak keunggulan seperti tahan dengan kekeringan dan serangan Donogerma bisa menjadi pertimbangan petani untuk menggunakan benih hasil perusahaan kelompok Asian Agri yang juga sudah digunakan petani yang mendapat dana BPDP di Riau," katanya.

Staf Eksekutif i BPDP, Deri Ridhanif , menyebutkan, BPDP akan mengucurkan dana kalau semua persyaratan sudah dipenuhi kelompok tani setelah sebelumnya mendapat rekomendasi dari Komite Sawit.

"Petani sawit Sumut memang memiliki potensi untuk mendapatkan dana BPDP karena selain luas tanaman tua yang perlu diremajakan cukup luas juga ada informasi bahwa sebagian tanaman petani memiliki produktivitas di bawah 10 ton per hektare," katanya.

Tetapi tentunya pengucuran dana replanting dari BPDP yang sebesar Rp25 juta itu harus memenuhi persyaratan seperti harus masuk dalam kelembagaan seperti kelompok tani dan kerja sama dengan perbankan.

Area Manager BSM area Medan 1, Wisnu Sunandar, menyebutkan, pihaknya berminat sebagai bank penalang dana replanting sawit dari BPDP itu karena beberapa faktor.

Beberapa faktor itu mulai dari wujud komitmen mendukung program pemerintah dalam membantu petani dan pengembangan sawit berkelanjutan serta melihat potensi besar bisnis sawit petani.

BSM didukung Asian Agri sudah ikut dalam pembiayaan replanting petani yang menggunakan dana BPDP di Riau sebanyak Rp6,7 miliar.

"Setelah Riau, BSM siap bermitra dengan petani Sumut," katanya.

Ketua Apkasindo Sumut, Gus Darlih Harahap, mengatakan, kemitraan petani dengan perusahaan perkebunan sawit seperti Asian Agri diharapkan bisa berlangsung selamanya.

"Tanpa bermitra dan dapat dukungan dari pemerintah diakui petani tidak bisa berkembang dengan baik," katanya.

Head plasma dan, Pangarepan Gurusinga menyebutkan bagi Asian Agri, kerja sama dengan petani bukanlah hal baru mengingat perusahaan tersebut sudah lama melakukan program tersebut.

Bahkan Asian Agri sejak tahun 2010 sudah mempersiapkan program replanting untuk petani plasma binaan perusahaan.

Dari total 60.000 hektare total areal plasma binaan Asian Agri, tahun ini sudah 310 hektare yang direplanting dan akan menyusul 990 hektare lagi.

Usia tanaman sawit di Sumut diakui lebih tua dibandingkan daerah lain karena awal penanaman komoditas itupun memang bermula dari Sumut.

Dia menegaskan, replanting bukan saja sudah diperlukan, tetapi peremajaan sudah mendesak karena usia tanaman sudah terlalu tua.

"Asian Agri siap bekerja sama dengan petani Sumut asal memang memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku, " katanya.

Benih Asian Agri yang dihasilkan. PT.Tunggal Yunus Estate, kata dia, sudah diakui kualitasnya seperti hasil di tahun pertama bisa mencapai 15 - 18 ton per hektare dan tahun kelima bisa 31 hingga 35 tahun.

Head Oil Palm & Research Station Asian Agri, Ang Boon Beng juga membenarkan pentingnya pengunaan bibit unggul dalam rangka peremajaan kebun sawit.

Dalam peremajaan, katanya, bibit unggul sawit yang digunakan harus dipastikan asli, agar petani tidak merugi dan menyesal nantinya.

"Gunakanlah bibit unggul yang jelas sumbernya. Asian Agri sendiri hanya menggunakan satu pintu untuk pemasaran bibit agar bibit yang sampai kepada konsumen lebih terjamin," ujarnya.

Pewarta: Evalisa Siregar

Editor : Ribut Priadi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2016