Medan, 12/3 (Antara) - Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara, Gus Irawan Pasaribu-Soekirman (GusMan) mengaku masih optimistis menunggu hasil pemilihan umum kepala daerah yang akan diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut pada 15 Maret.

"Ini kan masih hitung cepat dari LSI, bisa saja quick count ini pesanan dari orang-orang tertentu GusMan tetap optimis karena ini masih hitungan sementara," kata Gus didampingi Soekirman pada malam silaturahim dengan tim pemenangan GusMan, koalisi partai, relawan dan pendukung, di GusMan Center, Medan, belum lama ini.

Gus mengatakan, ucapan selamat yang dilontarkan beberapa waktu lalu merupakan pernyataan spontanitas atas dasar jiwa besar untuk hasil quick count."Malam ini kita kembali berkumpul di sini untuk menjemput semangat, agar tetap bekerja mewujudkan masyarakat Sumut lebih sejahtera," ujarnya.

Gus mengungkapkan, pada pelaksanaan Pilgub Sumut, Kamis, 7 Maret 2013 banyak terdapat indikasi pelanggaran seperti fomulir C6 yang tidak tepat sasaran.

Dikatakannya, bahkan banyak pemilih yang tidak mendapatkan formulir C6. Ironisnya, ada juga orang-orang tertentu yang menjual formulir C6 tersebut dengan harga bervariasi.

Waktu itu, jelasnya, ada yang menawarkan formulir C6 dengan harga Rp50 ribu per lembar, namun kita tolak karena GusMan tetap teguh mengikuti proses Pilgub Sumut dengan sportif.

"Kita masih mempunyai waktu untuk melakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Untuk itu mari kita bersama-sama mengumpulkan bukti-bukti kuat atas indikasi pelanggaran yang terjadi," kata mantan Dirut Bank Sumut itu.

Soekirman menambahkan, berbagai indikasi pelanggaran juga terdapat di Jalan Air Bersih, Medan."Banyak pendukung GusMan yang tidak memperoleh formulir C6, tapi orang yang tidak dikenali juga banyak mendapatkan C6 dan mencoblos di daerah tersebut," kata Wakil Bupati Serdang Bedagai ini.

Soekirman yang sejak 7 tahun lalu menetap di Kabupaten Serdang Bedagai dan secara administrasi terdaftar di pemerintahan setempat, mendapat formulir C6 double. "Tempat lama saya tinggal di Jalan Air Bersih, Medan, saya dan keluarga masih mendapat formulir C6. Ini sangat konyol dan saya khawatir ini merupakan jebakan. Saya dan keluarga tetap memilih di tempat dimana domisili kami sebenarnya," ucap Soekirman.

Ketua Tim Pemenangan GusMan, Adi Haris Siregar menegaskan, Pilgub Sumut 2013 sangat tidak berkualitas, selain tingginya angka Golput, yakni di atas 50 persen, juga banyak terdapat indikasi pelanggaran, diantaranya tidak diperkenankannya saksi dari GusMan berada di lokasi tempat pemungutan suara (TPS) karena menggunakan baju batik Sumut Sejahtera.

"Sebelumnya kami sudah menanyakan kepada KPU Sumut dan Panwaslu Sumut, pakaian seperti apa yang dilarang saat berada di TPS. Kedua pihak mengatakan, jika pakaian tersebut menggunakan atribut gambar dan nomor urut salah satu Cagub Sumut-Cawagub Sumut, serta berisi ajakan memilih pasangan tertentu.

Ketika kami menanyakan apakah saksi kami diizinkan memakai kemeja batik Sumut Sejahtera, pihak KPU dan Panwaslu Sumut mengatakan boleh dan diizinkan karena tidak melanggar aturan.

Adi mengatakan, saksi dari GusMan tersebut oleh petugas pengawas di TPS bahkan disuruh membuka baju Sumut Sejahtera."Saksi kemudian melaporkan hal itu kepada kami yang selanjutnya kami teruskan kepada KPU Sumut dan Panwaslu Sumut. Keduanya kembali menegaskan bahwa penggunaan pakaian Sumut Sejahtera itu tidak dilarang. Baru setelah itu, saksi kami diperbolehkan berada di TPS. Itupun setelah beberapa jam kemudian," ujarnya.

Adi menjelaskan, pihaknya sampai saat ini masih mengumpulkan berbagai bukti terjadinya berbagai tindak kecurangan dalam Pilgub Sumut 2013."Kami juga menemukan laporan adanya pembagian beras 10 kilogram dan minyak goreng 2 liter yang dilakukan pihak-pihak tertentu, sehari sebelum pencoblosan serta beberapa jam sebelum pencoblosan.Semua temuan ini masih kami dalami dan evaluasi," ucap Adi.***1***

(T.M034/B/M. Taufik/M. Taufik) 12-03-2013 18:52:02

Pewarta: Munawar Mandailing
:

COPYRIGHT © ANTARA 2026