Medan (ANTARA) - Akhir pekan menyapa dengan Sabtu sore yang seharusnya damai, waktu ketika ketenangan lazimnya tumbuh perlahan. Namun sore itu, matahari Medan seolah datang setengah hati untuk hadir, tapi enggan menetap.
Hanya sececah cahaya tipis yang jatuh di halaman Taman Budaya Sumatera Utara (Medan), sebuah gedung tua yang sejak lama menjadi rumah bagi denyut seni pertunjukan. Dinding-dindingnya menyimpan ingatan, dan lantainya menunggu cerita baru untuk dihidupkan kembali.
Prakata lisan pun mengalir, membuka ruang bagi napas para insan yang berkumpul, saling berbaur dalam udara yang kian hangat. Hawa panas yang berputar di seantero ruangan menjelma puisi pembuka:
Ketika Sungai Mengambil Nyawa Kita, sebuah karya Yulhasni yang lirih namun menghunjam. Disusul monolog simbolik bertajuk Sebuah Tanya dari Genangan, juga karya Yulhasni—sebuah gugatan sunyi yang dibiarkan menggantung. Keduanya dihadirkan sebagai jejak empati dan pelukan kepedulian bagi saudara-saudara yang tengah diuji oleh bencana banjir.
Sore itu, para penyaksi disuguhkan pementasan teater berjudul Gardu Revolusi Emak-Emak, mahakarya terbaru dari Komunitas Pecinta Literasi Sudut (Kopi Suhi) FKIP UMSU. Sebuah kisah tentang revolusi yang lahir dari tangan-tangan para ibu, perubahan yang tidak datang dengan gemuruh senjata, melainkan melalui laku sehari-hari dan keberanian yang bersahaja.
Dengan ragam karakter perempuan dewasa yang mengenakan daster tempur, tergantung indah membalut tubuh mereka, gelombang pembaruan ditampilkan dalam wajah yang dekat, akrab, dan manusiawi.
Suara-suara Tanya yang Dicekik
Lampu pentas dipadamkan. Gelap seketika merapat, lalu cahaya sentrik mengambil alih peran—berputar perlahan, menyerupai bola lampu diskotik yang berdenyut di tengah sunyi. Dari kegelapan itu, alunan melodi hidup menyusup ke ruang, memaksa mata menyerah pada satu titik: panggung yang kini menjadi pusat semesta. Para aktor berlalu-lalang, hadir silih berganti, seolah memperkenalkan diri kepada banyak pasang mata yang siap menyerap makna.
Di sudut kanan panggung, sebuah posko kecil berdiri dengan nama Desa Ceria tertera di atasnya. Sementara di sudut kiri, singgasana mungil berteduh di bawah pohon rindang—ruang yang menjanjikan jeda, tempat ketenangan dapat menetap lebih lama. Melalui tata ruang itu, sutradara Khairul Anam menuntun para penyaksi menuju hening yang hidup, ketenangan yang berdenyut, dan sunyi yang terasa ramah. Kesadaran penonton dipaksa menyelam ke arah yang tak kasatmata, namun pelan-pelan menghunjam rasa.
Tokoh pertama yang menggetarkan panggung adalah Dinda, diperankan oleh Firza Diah Febria. Ia melangkah masuk, menggendong tas, lalu menjatuhkan tubuhnya di bangku bersandar di sisi pohon rindang. Dinda adalah siswi Sekolah Menengah Atas. Balutan putih dan abu-abu yang melekat di tubuhnya bukan sekadar seragam, melainkan isyarat tentang generasi muda yang terus melangkah, tak jemu menimba dan mengejar cahaya ilmu.
Firza tak sekadar berakting; ia menjelmakan perlawanan dalam diam. Duduk hening, menatap buku bacaannya seolah jendela ilmu itu adalah emas batin yang paling berharga. Ia memilih tidak mengindahkan Juminten (Nazwa Azizah) dan Jamila (Chairiyani Ulfa)—dua ibu yang sibuk menampilkan diri di hadapan aplikasi kesayangan mereka, TikTok, tak jauh dari tempat Dinda bertumpu.
Pikiran yang bergolak di benaknya menjelma simbol kecerdasan yang ia rawat dengan setia.
Ketegangan perlahan memuncak ketika Mbak Tati (Kirana Adelia Bangun) muncul, mendata korban bencana banjir. Buku data di tangannya menjadi saksi keterlambatan bantuan—sebuah tanya yang tak terucap namun mengeras di benaknya tentang wajah Pemerintah di Negeri Suhi.
“Mengurus warga miskin saja susahnya minta ampun!” ujarnya lantang, suaranya menggema seperti gugatan yang dilayangkan kepada langit. Pertanyaan itu kian membuncah ketika Juminten meremehkan suara Dinda, menyebutnya sekadar omongan tinggi anak SMA. Dinda nyaris melawan, namun Nenek Asih lebih dulu bertutur, menyingkap ingatan tentang presiden-presiden di zamannya, seolah ia telah hidup menyeberangi banyak rezim.
Dalam jurnalisme sastrawi, detail adalah emas batin yang paling bernilai. Dan dalam Gardu Revolusi Emak-Emak, detail semantik menjadi denyut terkuat yang membuat para penyaksi tak sekadar melihat, tetapi berpikir dengan indah. Entah dari dapur gagasan apa para produser, sutradara, dan penulis naskah meramu cerita ini, yang pasti mereka berhasil menghadirkan lapisan tafsir yang menenggelamkan kesadaran. Dinda melontarkan tanya sebagai suara generasi muda—tanya yang selama ini kerap dihadirkan, namun jarang sungguh-sungguh didengar.
Ketika Dinda memimpikan pendidikan tinggi, kenyataan memaksanya menelan pil pahit. Kebijakan yang amburadul menjadikan mimpi itu harus ia simpan rapi di benaknya, bukan untuk segera diwujudkan. Ia menggenggam haknya—sebagai generasi muda dan sebagai perempuan, pelaku kelahiran peradaban, tiang negara seperti yang disuarakan Nenek Asih. Panggung menganyam kesadaran para penyaksi bahwa setiap tokoh memiliki takaran lelah dan letak ragu yang berbeda-beda.
Alis Dinda kian menyatu saat Ibu RT datang membawa pengumuman tentang pertandingan sepak bola. Dengan suara lembut namun tegas, Dinda menyebutnya sebagai pengalihan isu. Di tengah antusiasme warga terhadap pemain bola yang dianggap menyegarkan mata, ada masyarakat kecil yang tercekik oleh naiknya harga BBM. Ia mengerut—mengapa janji manis hanya hadir saat pemilihan? Semua orang menjual mimpi demi posisi, namun selepas terpilih, tak satu pun menjelma nyata.
Dinda menelanjangi pertanyaan itu sendirian, seolah berbicara pada ruang kosong. Tak ada jawaban. Sebab, jawaban yang ia nantikan hanya akan terlihat hilalnya ketika para pemegang kuasa di Negeri Suhi benar-benar menepati janji. Ia tak ingin tanya dan pernyataannya menjadi yatim—tanpa jawaban, tanpa kepastian.
Gema Akhir Cerita Panggung Bergemuruh Riang
Pementasan yang dihadirkan Komunitas Pecinta Literasi Sudut (Kopi Suhi) bukan sekadar tontonan. Sejak awal hingga akhir, ia menggerakkan mata-mata yang hadir untuk ikut menggetarkan hati—menyentuh ulang rasa peduli dalam berbangsa dan bernegara.
Ia tak hanya meminta kita menyaksikan kisah emak-emak yang riang tertawa, melainkan mengajak menjadi bagian dari revolusi yang diam-diam diimpikan banyak orang. Siapa pun, tanpa memandang latar belakang, diajak memahami bahwa setiap jiwa memiliki peran dan suaranya sendiri.
Riuh pun pecah. Tepuk tangan bergemuruh, disusul siulan panjang yang menjelma tanda kebanggaan. Ruangan itu bergidik oleh rasa takjub—oleh keberanian cerita yang berhasil menembus batas antara panggung dan kenyataan.
Di luar gedung, bulan malam terasa hangat. Cahaya lembutnya mengiringi langkah para penyaksi yang membawa pulang tawa dan terang dari panggung. Malam itu menjadi penanda: siapa pun dapat menjadi pelaku revolusi—bahkan dari barisan emak-emak. Mereka bisa membicarakan apa saja, mematahkan stigma bahwa kaum ibu hanya berkutat di urusan domestik tanpa empati pada negeri tempat mereka dilahirkan.
Di antara kerumunan yang bergerak menuju pintu keluar, mata saya menangkap pantulan wajah para pemain yang masih tersenyum di bawah lampu panggung yang perlahan padam. Sebuah refleksi tertinggal: bahwa suara yang kerap dianggap berisik tak selalu pertanda keburukan—sering kali, ia lahir dari keinginan sederhana agar tak ada lagi yang dibiarkan terpuruk sendirian.
***( Nadiya Atthaillah adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMSU
