Medan (ANTARA) - Perkembangan teknologi di era digital telah menyebabkan adanya percepatan arus informasi yang sulit dikendalikan. Percepatan tersebut turut menghadirkan dominasi konten digital yang serba cepat dan instan, membuat banyak budaya pendahulunya mulai ditinggalkan, seperti seni teater.
Di era modern ini, banyak anak muda yang lebih memilih budaya dan hiburan popular, sedangkan panggung teater kerap terabaikan. Dikutip dari data.goodstats.id, data oleh Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan hanya sekitar 8,69% publik Indonesia yang gemar menonton pertunjukan teater. Angka ini relatif rendah dibandingkan seni musik dan film yang masing-masing mendapatkan 52,55% dan 50,74%.
Di Kota Medan, geliat teater sejatinya masih dapat dirasakan, meski tidak seberisik beberapa dekade lalu. Keberadaan seni ini tetap terjaga melalui aktivitas komunitas-komunitas seni yang terus bergerak dan berkarya. Salah satunya ialah komunitas Medan Teater.
Medan Teater didirikan oleh dua orang pegiat seni, Ahmad Munawar Lubis dan Ardian Sari. Sejak November 2016, Medan Teater dibentuk sebagai wadah yang terbuka bagi siapa saja untuk belajar, bereksperimen, dan berkarya di bidang seni teater, tanpa ada batasan latar belakang.
Di usianya yang kini akan genap sepuluh tahun, Medan Teater telah menghasilkan puluhan karya yang telah dipentaskan di atas lebih dari seratus panggung di berbagai daerah di Indonesia.
Dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun terakhir, Medan Teater konsisten merilis pementasan bertema sosial dan eksperimental. Hal ini tercermin dari pementasan Drama Gemdal (Gembel Dari Lahir) pada Maret 2024 yang menarik perhatian publik lewat pembacaan satir terhadap kehidupan tunawisma di Kota Medan.
Selain itu, karya Meja Makan Mikir Mikir yang dipentaskan pada tahun 2025 dan mengangkat isu pangan berhasil menjadi pertunjukan dengan jumlah penonton terbanyak.
Medan Teater juga menampilkan Marcarito Sampuraga pada Oktober 2024 yang mengemas cerita lama dalam bentuk teater modern. Perjalanan kreatifnya semakin diperkuat dengan keterlibatan dalam berbagai festival regional hingga mewakili Sumatra Utara pada Festival Teater Sumatera 2025.
Di balik capaian dan deretan karya tersebut, Medan Teater mengaku merasakan tantangan dalam perjalanannya. Bob, Tim Artistik Medan Teater, menyebutkan bahwa tantangan terbesar yang mereka hadapi kini adalah bagaimana menjaga agar minat berteater tetap hidup, khususnya di kalangan anak muda.
Menurutnya, media sosial sebagai ruang utama penyebaran informasi saat ini masih sangat minim memberikan sorotan terhadap kegiatan teater.
“Teater itu masih banyak sebenarnya peminatnya, penontonnya, itu masih ada. Sayangnya memang tata kelola media kita saat ini kurang mengangkat soal teater,” sesal Bob. Persoalan tersebut, menurutnya, membuat seni teater kerap dipersepsikan sebagai seni tua yang kaku, jauh, dan tidak memiliki relevansi dengan kehidupan jaman sekarang.
Anggapan awam tersebut berusaha dipatahkan oleh Medan Teater dengan mempersembahkan karya-karya yang kontekstual. Menurut mereka, relevansi adalah kunci untuk menarik minat dan antusias penonton. Ketika cerita yang dilakonkan dekat dengan isu terkini dan realitas kehidupan, penonton akan lebih mudah merasa terhubung dan terwakili.
Munawar, Pendiri Medan Teater turut menyampaikan hal yang senada, bahwa Medan Teater selalu berusaha menyuguhkan pertunjukan yang dekat dan kontekstual dengan jaman. “Isu tersebut dibuat dalam bentuk garapan, tertuang ke dialog-dialog yang disuguhkan, satir-satir yang hadir, sehingga bisa konek ke yang menonton,” tuturnya.
Pendekatan tersebut juga diperlihatkan pada pementasan monolog Atma Loka yang akan digelar pada 7 Februari 2026 mendatang, melalui naskah berjudul “Bias Lampu Kota”. Monolog ini mengisahkan pencarian jati diri perempuan muda yang terhimpit tekanan keluarga, standar sosial, dan ilusi penerimaan di media sosial.
Termasuk pembahasan bagaimana patriarki, pola asuh, relasi kuasa dalam rumah tangga, serta femisida membentuk rasa tidak berdaya, sekaligus menyoroti peran perempuan yang terkadang ikut melanggengkan sistem tersebut.
Selain persoalan minat penonton, keterbatasan fasilitas juga menjadi tantangan bagi para pelaku teater di Kota Medan. Di Medan, ruang pertunjukan yang layak dan memadai masih kurang tersedia, sehingga seringkali membuat proses produksi menjadi lebih kompleks, baik dari segi teknis maupun anggaran.
Meski demikian, Munawar menyebut ia dan rekannya di Medan Teater senantiasa berupaya mencari alternatif agar aktivitas berteater dapat terus berjalan. Salah satunya dengan memanfaatkan ruang-ruang alternatif sebagai ruang latihan di tengah terbatasnya ruang terbuka yang dapat digunakan.
“Walaupun minim ruang dan fasilitas, kami pasti terus coba cari alternatif. Nggak ada tempat (latihan) indoor, kami di outdoor. Nggak bisa outdoor, kami di trotoar. Kami sempat latihan di trotoar, waktu itu belum boleh latihan di dalam sini (Taman Budaya Medan). Bukannya kami melawan, tapi karena nggak ada tempat,” ujar Munawar.
Kendati telah terus berusaha untuk berkembang dan beradaptasi, Isty, Ketua Umum Medan Teater, menyayangkan cara pandang sebagian masyarakat terhadap seni teater. Berbicara dari pengalamannya, Isti mendapati teater masih dinilai sebagai seni yang tidak lebih dari hiburan semata, kurang diapresiasi, sering diremehkan, bahkan dianggap dapat dihargai dengan sangat murah.
“Saya melihat, bagi orang-orang luar teater, teater ini dianggap sebagai seni yang cuma ‘sekedar-sekedar’. Jadi, saya pengennya lebih dihargai, nggak dianggap sekadar hiburan aja, nggak dianggap remeh,” harapnya.
Sehubungan dengan hal tersebut, Bob turut menyampaikan harapan yang selaras. Ia ingin lebih banyak orang tahu bahwa teater bukan hanya tentang pertunjukan atau pelatihan seni peran.
Proses berteater juga turut memberikan pengajaran mengenai banyak hal lain, mulai dari pengelolaan emosi, manajemen diri, kerja sama tim, dan banyak keterampilan lainnya yang bermanfaat.
“Teater tidak hanya mendidikmu untuk jadi seniman tok, nggak cuma jadi aktor saja, tapi pelatihan teater itu juga mengajakmu untuk melatih diri, melatih pikiran, dan melatih rasa,” tutup Bob mantap.
