"Penguatan rupiah sedikit tertahan karena penguatan tajam dalam beberapa hari terakhir," kata Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih di Jakarta, Kamis.
Ia menambahkan nilai tukar rupiah tercatat telah mengalami penguatan sekitar 580 poin dalam beberapa hari terakhir ini. Penguatan rupiah yang cukup tajam itu merupakan kombinasi antara faktor global dan domestik.
Ia mengemukakan diantara faktor global yang memberikan sentimen positif bagi mata uang rupiah diantaranya kemenangan partai Demokrat pada "midterm election" di DPR AS, dan potensi kesepakatan perdagangan antara AS-Tiongkok di akhir November ini.
Sedangkan faktor domestik, lanjut dia, salah satunya didukung oleh penerapan instrumen DNDF (Domestic Non Delivery Forward), dan penilaian posisi kurs rupiah yang tidak wajar (overshooting) ketika menembus Rp15.000 per dolar AS.
Kendati demikian, ia mengatakan, penguatan rupiah perlu pengujian lebih lanjut ketika nanti Bank Sentral AS (the Fed) menaikkan suku bunganya satu kali lagi pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Desember.
"Biasanya pertemuan FOMC itu diikuti dengan penguatan dolar AS," katanya. Budi Suyanto
Pewarta: AntaraEditor : Akung
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.