Pematangsiantar, (Antaranews Sumut) - Aktivitas masyarakat di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada Ramadhan 1439 Hijriyah atau 2018 Masehi dan aksi teror yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia, berlangsung seperti biasa.

Para pedagang di pusat perbelanjaan tradisional, Pasar Horas dan Pasar Dwikora, Kamis, tetap membuka usahanya, kecuali kedai nasi, dan kaum ibu silih berganti berbelanja.

Demikian juga di pusat perbelanjaan moderen, pertokoan dan tempat kunjungan, seperti Lapangan Merdeka dan Balai Bolon, masyarakat tetap ramai.

Syahrul Damanik (50), pedagang di Pasar Horas mengatakan, puasa tidak menghalangi orang untuk beraktivitas, bahkan lebih bersemangat, karena nilai ibadah lebih bermakna.

"Kalau di rumah malah tidak melakukan kegiatan apa-apa, jadinya kebanyakan tidur, dan bikin lemas," kata pedagang gula merah aren, warga Kecamatan Siantar Martoba itu.

Ayah dua anak itu, yakin, dengan tetap membuka usaha katanya, rejeki terus mengalir, kedekatan dan komunikasi sesama pedagang berlangsung, dan tanpa terasa waktu berlalu.

Dia dan pedagang lainnya juga tidak khawatir dengan terjadinya serangan teror yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia, menimpa Kota Pematangsiantar, khususnya di tempat mereka berjualan.

Menurut Edi (57), pedagang ikan di Pasar Dwikora, warga Kecamatan Siantar Barat, kemajemukan penduduk dengan ikatan persaudaraan dan toleransi di antara sesama, menjadi benteng kerukunan masyarakat.

"Perkawanan dalam pergaulan saling mengenal dan kuat, bahkan menjadi saudara karena ikatan perkawinan antaretnis, antargolongan dan antaragama," katanya.

Selain itu, terdapatnya sinergitas antara personel dari pihak keamanaan dengan masyarakat, yang menginginkan tetap terciptanya kondusivitas daerah. ***3***



Pewarta: Waristo
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026