"TPID sepakat untuk terus mengupayakan menekan angka inflasi"Medan, 15/3 (Antara) - Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Utara menyepakati pembenahan rantai distribusi barang yang dinilai masih belum bagus atau lancar dan menjadi penyebab kecenderungan lonjakan harga di pasar daerah itu.
"Pembenahan rantai distribusi barang itu disepakati dalam rapat TPID Sumut yang digelar di Bank Indonesia membahas tren naiknya harga berbagai barang di pasar akhir-akhir ini," ujar Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumut, Subintoro di Medan, Selasa.
Dia mengatakan itu usai mewakili Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumut, Difi A Johansyah yang juga menjabat Wakil Ketua TPID Sumut melakukan rapat TPID Sumut yang dihadiri berbagai instansi terkait.
Dugaan bahwa distribusi terganggu itu, kata dia, mengacu pada fakta bahwa sebenarnya barang kebutuhan di sentra produksi Sumut cukup banyak.
Namun, nyatanya di pasar terjadi kekurangan pasokan dan menjadi penyebab lonjakan harga.
Dia memberi contoh, adanya temuan bahwa hasil panen cabai merah di Kabupaten Batubara tidak dipasarkan atau di lempar ke daerah lain di Sumut, tetapi malah dilepas ke luar Provinsi Sumut.
Bahan pangan beras juga begitu, dimana produksi tidak dipasarkan di Sumut sehingga saat panenpun, harga tetap tinggi.
"Hanya sebentar saja harga beras atau gabah yang turun saat panen.Setelah itu kembali naik," kata Subintoro.
Untuk memperlancar distribusi barang, kata dia, jangka pendek yang akan dilakukan atau direkomendasikan TPID adalah melakukan operasi pasar (OP) yang menjadi tugas Perum Bulog atau kalau memungkinkan dilaksanakan pemkab/pemkot.
Menurut dia, untuk jangka menengah atau panjang, perbaikan distribusi barang adalah melakukan peningkatan infrastruktur agar arus masuk dan keluar barang lancar serta menambah produksi dengan cara membuat klaster.
"Bank Indonesia sendiri menilai langkah perbaikan rantai distribusi barang itu sudah sangat mendesak mengingat adanya perubahan atau tidak biasanya terjadi inflasi di Bulan Februari, seperti Februari 2016 yang sebesar 0,27 persen," katanya.
Inflasi Sumut pada Februari 2016 dipicu terjadinya inflasi di Kota Medan yang menjadi kota indeks harga konsumen (IHK) sebesar 0,38 persen.
Adapun Sibolga, Pematangsiantar dan Padangsidempuan pada bulan kedau itu mengalami deflasi masing-masing 0,02 persen, 0,33 persen, dan 0,19 persen.
Inflasi di Medan dipicu kenaikan harga harga cabai merah, beras, rokok kretek dan filter, sayur sawi hijau, dan ikan tongkol.
"TPID sepakat untuk terus mengupayakan menekan angka inflasi dimana pada 2016 diharapkan semakin bisa lebih rendah dari 2015 yang 3,24 persen," katanya.
Angka inflasi Sumut 2015 sendiri memang sudah jauh di bawah angka 2014 yang sebesar 8,17 persen dan 2013 yang masih 10,18 persen.
Kepala Bulog Sumut Fatah Yasin mengatakan, Bulog sudah kembali melakukan OP cabai merah dimana pada Maret dilakukan di Kota Medan yang mengalami lonjakan harga hingga Rp60.000 per kg.
Bulog, kata dia, sudah membeli 100 kg cabai merah petani yang sedang panen di Kabanjahe, Kabupaten Karo.
Dia menjelaskan, harga beli cabai merah Bulog ke petani/pedagang di Kabanjahe Rp42.000 per kg atau lebih tinggi dari harga rata-rata di tingkat petani yang berkisar Rp40.000 per kg dan dijual di pasar Medan seharga Rp44.000 per kg atau di bawah harga pasar yang Rp60.000 per kg.
Pewarta: Evalisa SiregarEditor : Ribut Priadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.