Oleh : Alda Muhsi dan Ferry Anggriawan

Medan, (Antara Sumut). – Dewasa ini tren minum kopi sudah mulai berkembang di Kota Medan. Hal itu ditunjukkan dengan menjamurnya warung kopi modern, kafe, dan restoran yang menyediakan menu spesial bermacam kopi, mulai dari kopi tradisional maupun mancanegara.

Berbicara mengenai kopi, tentulah ada satu nama kopi yang tak asing lagi terdengar  di telinga kita, yaitu kopi Ulee Kareng. Kopi yang berasal dari Aceh ini mempunyai cerita tersendiri. Secara etimologi, Ulee Kareng berasal dari Aceh. Ulee berarti kepala, dan Kareng berarti ikan teri. Jadi Ulee Kareng adalah kepala ikan teri. Namun apa kaitannya dengan kopi? Memang kopi Ulee Kareng tak ada kaitannya dengan kepala ikan teri, seperti halnya kopi luwak yang berasal dari kotoran luwak.

Kopi Ulee Kareng berasal dari nama tempat/ kecamatan di Banda Aceh. Di mana terdapat banyak warung kopi dengan rasa nikmat dan aroma yang khas.

“Ulee Kareng itu itu nama sebuah kecamatan di Banda Aceh. Di sana banyak warung kopi. Tapi ada satu warung kopi yang ramai sekali pengunjungnya. Kopinya sangat enak. Bubuk kopinya merupakan warisan keluarga. Dan belum ada sebutan untuk kopi yang nikmat itu. Karena itulah, maka masyarakat penikmat kopi  memberikan sebutan Ulee Kareng untuk kopi yang nikmat itu.” Ungkap Yuspian (56) seorang  penikmat kopi dari Aceh.

Kopi Ulee Kareng yang sudah terkenal sejak 1960 ini sampai sekarang semakin berkembang. Terlebih pascatsunami. Banyak pendatang dari dalam maupun luar negeri yang tak luput untuk menyeruput kenikmatannya. Bahkan saat ini kenikmatan kopi Ulee Kareng juga bisa dirasakan di Medan. Karena semakin menjamur kafe di Medan yang menyajikan kenikmatan kopi Ulee Kareng. Misalnya Kopi Baba, D’Kopie, Coffe Kita, Coffe Cangkir, Music Coffe, Makyung Coffe, Keude Kupie, dan lain sebagainya.

“Banyak orang Aceh yang merantau ke berbagai daerah, termasuk Medan, dan membuka kafe kopi Ulee Kareng. Agar semua kalangan masyarakat Medan dapat merasakan kenikmatan kopi Ulee Kareng dengan aroma yang khas itu,” katanya.


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026