Medan,3/6 (Antara) - Devisa Sumatera Utara dari ekspor non migas pada kuartal I 2013 turun 7,94 persen dibandingkan periode sama 2012 atau menjadi 3,217 miliar dolar AS akibat melemahnya harga jual komoditas.

"Kuartal 2012, devisa sudah sebesar 3,494 miliar dolar AS. Penurunan nilai ekspor, bukan karena volume ekspor turun, tetapi nilai jualnya yang masih lemah,"kata Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Hajizi di Medan, Senin.

Harga ekspor yang melemah itu sendiri akibat dampak krisis global yang masih melanda.

Volume ekspor Sumut pada kuartal I 2013 yang mencapai 2,977 juta ton naik lumayan besar dari periode sama 2012 yang masih 2,672 juta ton.

Harga ekspor berbagai barang khususnya crude palm oil (CPO) dan karet yang masih tren melemah mengkhawatirkan masih terjadinya lagi penurunan devisa pada tahun ini.

"Mudah-mudahan harga bergerak naik terus agar kenaikan volume ekspor memberikan manfaat nyata pada devisa Sumut tahun ini,"katanya.

Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Derom Bangun, menyebutkan, harga ekspor minyak sawit mentah atau CPO hingga semester I ini terus mengalami fluktuasi dampak krisis global yang masih berlangsung.

"Sejak akhir Mei harga ekspor memang tren menguat karena menguatnya permintaan menyusul industri yang meningkatkan produksi untuk kebutuhan Ramadhan dan Idul Fitri,"katanya.

Namun, harga yang tren naik itu sulit diprediksi apakah berkelanjutan atau justru melemah kembali mengingat situasi perdagangan dewasa ini sangat dipengaruhi perekonomian global yang masih juga belum stabil.

Harga ekspor CPO memang sudah 860 dolar AS per metrik ton (MT) dan diperkirakan naik lagi pada Juni-Juli hingga mencapai 900 dolar AS per MT.***3*** (T.E016/B/E. Sujatmiko/E. Sujatmiko) 03-06-2013 16:26:50

Pewarta: Evalisa Siregar
:

COPYRIGHT © ANTARA 2026