Sekitar 10 hektare lahan pertanian padi di Desa Sayur Matua, Kecamatan Naga Juang, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, hingga Sabtu (25/4) masih belum tersentuh perbaikan pascabanjir yang melanda wilayah tersebut pada November 2025.
Hamparan sawah yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan warga kini berubah menjadi lautan pasir, batu yang terbawa arus Sungai Aek Namora. Kondisi ini menyebabkan sedikitnya 30 petani gagal menggarap lahan mereka selama dua musim tanam terakhir.
Jeritan hati petani di Desa Sayur Matua, Kecamatan Nagajuang, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) kian menyayat hati. Sejak bencana alam menerjang pada November 2025 lalu, sekitar 10 hektare lahan padi produktif di kawasan Saba Lama masih terlantar dan tertimbun material sisa banjir, membuat para petani kehilangan mata pencaharian utama mereka.
Salah seorang petani, Sulhanuddin, mengatakan dari total 28 hektare lahan produktif di kawasan Saba Lama, sekitar 10 hektare mengalami kerusakan parah dan tidak dapat difungsikan.
“Kami sudah dua kali masa tanam tidak bisa turun ke sawah. Kerugian dari 10 hektare ini diperkirakan mencapai Rp200 juta setiap musim panen,” ujar Sulhanuddin.
Ia menambahkan, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber utama penghasilan.
Kekecewaan petani semakin meningkat karena hingga kini belum ada realisasi perbaikan dari pemerintah daerah, meskipun sebelumnya telah ada pertemuan antara perwakilan petani dengan sejumlah instansi terkait.
“Dalam pertemuan awal April lalu, kami dijanjikan perbaikan akan dilakukan dalam dua minggu. Namun sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” katanya.
Hal serupa disampaikan Maswati Nasution, petani lainnya, yang mengaku kehilangan sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak-anaknya.
Ini satu-satunya pekerjaan saya. Sekarang lahan rusak total, kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah agar kami bisa kembali bertani,” ujarnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Madina, Taufik Zulhadra Ritonga, membenarkan bahwa lahan di Saba Lama masuk dalam kategori terdampak bencana banjir 2025.
Ia menyatakan pemerintah daerah tengah mengupayakan dukungan anggaran dari Kementerian Pertanian untuk percepatan pemulihan lahan.
“Perbaikan lahan direncanakan mulai dikerjakan pada minggu kedua Mei 2026. Saat ini proses pengurusan masih berlangsung,” kata Taufik.
Ia juga menyoroti pelaksanaan normalisasi Sungai Aek Namora pada Desember 2025 yang dinilai tidak berjalan optimal, sehingga berdampak pada belum tertanganinya persoalan lahan pertanian warga.
Pemerintah daerah, lanjutnya, menjadikan pemulihan lahan tersebut sebagai prioritas guna mendukung ketahanan pangan di daerah.
Editor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2026