Dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Rahadi Rihatmadja mengatakan sering menggunakan sabun antiseptik dapat membuat kulit iritasi dan kering.

“Memang baik tapi sebetulnya sabun yang tidak ada antiseptik punya daya untuk membunuh kuman juga,” ucapnya dalam webinar HUT RSCM ke 103 tahun yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa.

Sabun antiseptik biasa digunakan oleh kalangan medis untuk membunuh kuman karena dinilai lebih ganas dan berpotensi tertular penyakit serius. Namun Rahadi mengatakan bagi masyarakat umum, cukup menggunakan sabun mandi biasa.

“Kalau pakai sabun antiseptik dari dokter kulit takutnya iritasi malah tangannya lama-lama jadi kering, kalo kering sawar kulit (pertahanan kulit) bisa ditembus oleh kuman dan jadi pecah-pecah,” ucap Rahadi.

Baca juga: Ahli sebut sinar ultraviolet matahari lebih bahaya dari sinar biru gadget

Untuk mencegah kuman yang menginfeksi kulit, Rahadi juga menganjurkan untuk sering memotong kuku pendek agar kuman tidak berpindah kebagian tubuh lain melalui kuku.

“Kalau kita menggaruk kelainan kulit yang ada kumannya atau ada jamurnya, itu pindah ke celah bawah kuku dan pakai garuk tempat lain bisa berpindah,” ucapnya.

Penting juga untuk tidak berbagi barang pribadi karena alat tersebut berpotensi terkontaminasi kuman dan jamur yang dapat menular. Beberapa cara yang dapat menghilangkan jamur pada baju atau handuk adalah dengan merendam di air hangat suhu 60 derajat atau menggunakan sedikit karbol pada air rendaman untuk menghilangkan jamur.

Ia pun menjelaskan infeksi pada kulit tidak sama dengan alergi. Infeksi kulit bisa terjadi karena lapisan pelindung kulit yang menipis akibat dari perawatan yang salah atau kekurangan nutrisi. Kulit yang kering dan kebiasaan menggaruk juga bisa menyebabkan penyakit biduran.

Lalu ada pula yang melalui saluran pernapasan seperti penyakit cacar, yaitu virus yang masuk lewat udara lalu ke darah hingga ke jaringan kulit dan menyebar.

Rahadi pun menjelaskan cara membedakan gatal-gatal biasa dengan infeksi kulit adalah dengan melihat bentuk dan lokasi terdapat infeksinya.

“Yang gampang mana kala ada kelainan kulit yang ada nanahnya atau keluar cairan putih kekuningan kemudian mengering itu jadi kusta, kemungkinan besar itu infeksi. Kemudian letaknya di lipatan ketiak, lipat paha, dan anak-anak daerah bokong,” ucapnya.

Secara umum, infeksi pada kulit bisa dicirikan dari empat penyebabnya yaitu kuman bakteri, jamur, kutu badan atau parasit dan virus.

Penanganan pada infeksi kulit tidak selalu harus menggunakan antibiotik, karena tergantung dari penyebab infeksi itu sendiri. Jika sembarangan menggunakan antibiotik tanpa resep dokter, akan berakibat kuman menjadi kebal.

“Jangan melihat kulit infeksi jadi beli obat antibiotik sendiri, kalau sering bisa merusak organ dan kumannya akan kebal dan jadi enggak mempan. Begitu juga obat oles yang mengandung antibiotic, awalnya baik tapi lama-lama kumannya jadi kebal,” ucapnya.
 

Pewarta: Fitra Ashari

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2022