Bahasa daerah merupakan alat pemersatu bangsa. Seperti halnya bahasa Indonesia. Untuk menghindari agar bahasa daerah  tidak mengalami kepunahan maka penting untuk di lestarikan.

Itu dikemukakan Bupati melalui Sekda Tapanuli Selatan (Tapsel) Parulian Nasution saat menerima kunjungan kerja Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, di ruang kerjanya di Sipirok pada Kamis (14/7).

Menurutnya keragaman bahasa (semua daerah) di Indonesia merupakan sebuah kekayaan bangsa yang harus dicintai dan di hargai, tak terkecuali bahasa daerah Tapsel (Angkola).

"Karenanya kita (Pemkab Tapsel) sambut baik rencana balai bahasa yang akan melestarikan bahasa angkola ini," kata Parulian didampingi Sekretaris Pendidikan Tapsel Abinur dan Kabag Humas Isnut Siregar dalam pertemuan itu.

Lebih dari itu balai bahasa juga bisa mendorong agar bagaimana bahasa angkola masuk dalam kurikulum muatan lokal sekolah. Disamping dapat dijadikan sumber literasi untuk pengembangan sastra daerah Indonesia.

"Bahasa batak angkola memiliki ciri dialek yang lembut dan sarat akan kosa kata nan indah. Terlihat dari banyak nya perumpamaan atau sastra yang bisa membangun apektif/nilai moral maupun pola pikir serta sikap yang baik," kata Parulian.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumut Hidayat Widianto menjelaskan kehadiran pihaknya dalam rangka memperkuat program yang telah di luncurkan Menteri Pendidikan Riset dan Teknologi pada 22 Februari 2022 lalu yakni "revitalisasi bahasa daerah yang terancam punah."

Untuk Sumatera Utara, kata Hidayat, pihaknya memilih program revitalisasi bahasa daerah yakni bahasa melayu dialek gane, bahasa melayu dialek sorkam, dan bahasa angkola.

Menurut Hidayat revitalisasi bahasa daerah penting. Perda nya nomor 8 Tahun 2017. Kunjungan tersebut masih masuk tahap dua. Tahap tiga, kata Dia, akan ada pelatihan guru utama, dan tahap akhir ada festival tunas bahasa ibu November 2022 mendatang.

Pewarta: Kodir Pohan

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2022