Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumatera Utara terus berbenah menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024, termaksud menyiapkan atlet-atlet muda yang diharapkan nantinya mampu mengukir prasasti.

Wakil Ketua I KONI Sumut Prof. Dr. Agung Sunarno di Medan, Rabu, mengatakan usai PON Papua, KONI Sumut saat ini sedang fokus mempersiapkan atlet muda, sekaligus merupakan lapis ke dua menuju PON -2024 di mana Sumut dan Provinsi Aceh akan menjadi tuan rumah bersama.

"Pembinaan terhadap atlet muda memang menjadi salah satu fokus kita. Pembinaan jangka panjang yang dilakukan diharapkan dapat menghasilkan atlet berkualitas ke depannya, " katanya.

Profesor di bidang Pendidikan Keolahragaan ini mengatakan, meski hanya bertengger di posisi 13 klasemen dengan raihan 10 emas, 22 perak dan 23 perunggu di PON 2021 Papua, prestasi kontingen Sumut sebenarnya tidak terlalu mengecewakan karena di arena itu justru muncul kejutan dari sejumlah atlet lapis dua.

Baca juga: Aceh dan Sumut tuan rumah PON tahun 2024

Para atlet muda Sumut itu menorehkan prestasi dengan raihan medali perak, seperti Nurainun di cabang atletik, nomor 400 meter gawang puteri.

Begitu juga di cabang wushu, kata Agung, Sumut masih memiliki sederet atlet muda di nomor sanda, yakni Ridwan, Emanuel dan Roberto.

Sementara untuk cabang biliar, juga ada nama Chandra Wijaya dan sejumlah atlet lainnya yang sedang menempuh Pelatda berjalan sejak 1 September 2021.

“Sejumlah atlet lapis dua di nomor-nomor perorangan ini sedang fokus mengikuti Pelatda berjalan, termasuk peraih medali emas di PON lalu akan kita masukkan jika usianya masih memenuhi syarat, " katanya.

Baca juga: Sumut-Aceh terus persiapkan diri jadi tuan rumah PON 2024

Agung menekankan, kegagalan Sumut masuk 10 besar di PON Papua, salah satunya, akibat pandemi COVID-19 yang sedang melanda secara nasional bahkan dunia.

Termasuk juga berimbas terhadap pembinaan dan pengiriman atlet ke luar negeri.

“Kita gagal mengirimkan atlet wushu ke China karena ada larangan keluar negeri akibat pandemi, begitu juga sejumlah atlet yang terkendala berlatih ke Jakarta seperti pada cabang biliar,” ucap Agung.

Baca juga: Ekonom : PON 2024 bisa dorong pertumbuhan ekonomi Sumut

Selain itu, kata dia selama lebih setahun porsi latihan menjadi kurang maksimal akibat pandemi dan PPKM dan hanya dilakukan secara virtual.

KONI Sumut, sebut Agung bahkan harus mengembalikan anggaran Pelatda berjalan dan Pelatda penuh karena memang tidak berjalan .

Pada PON 2021 di Papua, Sumatera Utara juga hanya mengikuti 37 cabang olahraga dan 40 atlet tidak bisa diikutsertakan.

Sementara pada PON sebelumnya di Bandung, Jawa Barat tahun 2016, Sumut mengikuti 47 cabang olahraga dengan perolehan 16 emas, 17 perak, 33 perunggu dan berada di posisi 9.

Ia meminta, ke depan para pemerhati olahraga juga semakin gencar melakukan kritik, agar sama-sama mendapatkan solusi, karena pembinaan olahraga menuju prestasi dan menjadi juara merupakan sebuah proses panjang.

“Karena ini bukan merupakan pekerjaan yang gampang, makanya KONI Sumut memang harus terbuka menerima kritik dan masukan siapa saja, termasuk juga dari Pengprov olahraga yang selama ini kami nilai juga sangat luar biasa perjuangan dan pengorbanannya dalam mencetak atlet berprestasi, " katanya.
 

Pewarta: Juraidi

Editor : Riza Mulyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2021