Corona Virus Desease atau yang akrab kita ketahui dengan nama COVID-19 merupakan virus yang sudah tidak asing lagi dalam pendengaran masyarakat umum. 

Virus yang hadir pertama kali di kota wuhan cina terdengar samatlah angat seram dan mencekam serta sudah banyak memakan korban. Perkembangan yang sangat cepat dipertontonkan dalam penyebaran virus ini.

Informasinya dapat kita akses di berbagai media seperti di televisi, media massa ataupun media sosial lainnya yang sering kita akses tiap hari. 

Setahun lamanya telah kita lewati aktifitas dengan adanya virus ini tentu banyak dampak yang dirasakan baik dari sektor ekonomi, sektor pendidikan, sektor ketenagakerjaan, sektor kesehatan dan sektor lainnya.

Hal ini dapat kita lihat dengan kondisi menurunnya ekonomi per bulan Agustus 2020 yang mengalami minus 5,20 Persen pada kuartal kedua, yang sebelumnya pada kuartal I yang hanya mencapai minus 2,97 persen. 

Kondisi atau peresentasi ekonomi ini dapat kita akses pada data laporan dari Badan Pusat Statistik per- 2020. 

Dengan melemahnya ekonomi sudah tentu sangat berdampak pada sektor ketenagakerjaan, dampat penyebaran virus corona ini menyebabkan semua perusahaan yang memberlakukan Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah yang diberlakukan oleh pemerintah sebagai upaya mengantisipasi penyebaran dari virus ini. 

Sehingga menyebabkan banyaknya karyawan yang harus diberhentikan karna ketidaksanggupan dari pemilik perusahaan untuk memberi upah kepada karyawannya, dan sudah pasti ini akan kembali mengangkat jumlah pengangguran yang lebih tinggi lagi.

Pemberlakuan PSBB tidak hanya diterapkan di negara Indonesia saja, bahkan banyak negara besar dan maju seperti Amerika, Italia, Inggris dan China tentunya juga melakukan hal yang sama.

Mengingat betapa cepatnya virus ini menyebar dan merenggut jutaan jiwa manusia, dan sampai saat ini belum kita lihat titik temu untuk mengatasi secara efektif dari persebaran virus ini.

Selain diberlakukannya Work From Home juga dalam sektor pendidikan diberlakukan belajar dari rumah, dikarenakan anjuran dari pemerintah yang harus tetap Stay at Home kepada masyarakatnya.

Tentu bagi sebagian orang pendidikan yang dilakukan secara Online (Dalam Jaringan) ini sangat tidak efektif dan sering tumbuh rasa tidak nyaman dan muncul kemalasan belajar dari para pelajar dengan metode pembelajaran Daring ini dikarenakan kondisi ekonomi dan kondisi daerah yang susah dijangkau sinyal internet.

Menurut Simmons (Simmon.D.E. (2002) The forum report: E-learning adoption rates and barriers) bahwa secara berangsur-angsur banyak organisasi mengadopsi Online Learning sebagai metode penyampaian utama untuk melatih para pegawai. 

Meskipun penggunaan sistem belajar online merupakan suatu yang relative mahal, namun dapat ditarik suatu manfaat yang sangat besar dari strategi tersebut baik bagi peserta didik maupun bagi pendidik.

Realitas yang terjadi ditengah masyarakat masih banyaknya kendala yang dialami peserta didik seperti kondisi internet yang susah, mahal, dan kondisi handphone yang tdak memadai dikarenakan lokasi dan kondisi ekonomi. 

Tentu ini akan menimbulkan keresahan dan kekacauan mental pada pelajar, bahkan sampai keresahan juga dialami orang tua yang setiap hari harus melihat kondisi anaknya yang kian hari semakin banyak kebutuhannya demi efektifitas dari pembelajaran online ini. 

Kondisi ekonomi juga semakin memburuk, karena kebanyakan orang tua dari pelajar kondisi ekonomi nya dibawah rata-rata, dan banyak usanya di bidang wiraswasta dengan kondisi ekonomi yang tidak stabil.

Karena kebutuhan anak yang semakin banyak maka kondisi kesehatan mental akan terganggu apabila tidak terpenuhi kebutuhannya dalam mengikuti online learning ini.

Dalam hierarki teori kebutuhan Abraham Maslow yang menyatakan bahwa kebutuhan tidak bisa dipisahkan dalam aktifitas manusia artinya tidak bisa kita pungkiri lagi bahwa munculnya kebutuhan adalah sebagai upaya yang dilakukan manusia agar dapat mempertahankan hidupnya.

Kebutuhan ini disusun dalam hierarki kebutuhan yaitu, pertama kebutuhan fisiologis yaitu kebutuhan utama yang mendasar pada diri manusia seperti halnya makanan, minuman, dan ketersediaan tempat tinggal.

Ini merupakan sifatnya sangat mendesak kalau kita kaitkan dengan kondisi saat ini Kuota atau paket data merupakan kebutuhan utama untuk dapat berlangsungnya proses belajar mengajar.

Kedua kebutuhan rasa aman yaitu kebutuhan yang muncul setelah didapatkan kebutuhan perama tadi, dimana seseorang sangat membutuhkan kenyamanan baik dari segi fisik maupun emosional.

Ketiga kebutuhan sosial, yaitu dalam hierarki maslow ini seperti halnya kebutuhan untuk diberi kasih sayang kebutuhan akan rasa memiliki, rasa persahabatan dan aktifitas sosial yang dilakukan. 

Melihat pada kondisi saat ini tentu hal ini sedikit terkikis baik dari aktifitas sosial yang kurang dapat dijangkau secara maksimal dikarenakan virus covid 19 yang membuat interaksi sosial kita terbatasi. 

Prinsip utama dari kehidupan yaitu manusia selalu membutuhkan aktifitas sosial untuk kembali merefresh dirinya dan bisa mempertahankan kehidupannya, keempat yaitu kebutuhan penghargaan dimana kebutuhan ini muncul dari faktor internal untuk mendapatkan perhatian, eksistensi dari orang lain. 

Dari teori hierarki kebutuhan diatas tentunya sangat sulit untuk kita dapatkan pada kondisi sekarang. Dimana kebutuhan utama sesorang harus mulai terbatasi dan terhambat dikarenakan kondisi ekonomi yang tidak baik.

Contohnya dapat kita lihat banyak keluarga atau orang lain yang mulai terganggu kesehatan mentalnya dikarenakan pendapatan atau upah yang mulai rendah dikarenakan aturan pemerintah terkait pemberlakuan PSBB yang menyebabkan ekonomi semakin menurun. 

Proses aktifitas sosial disekolah bagi pelajar harus terhambat dikarenakan proses belajar mengajar secara online karena harus tetap menjaga jarak dalam interaksi sosial, Kompetitif atau apresiasi sudah tidak efisien dikarenakan semua serba online.

Dari segi theology kita sangat membutuhkan tuhan dalam aktifitas kita dan menjaga kita dari penyebaran virus ini. Sebagai individu yang meyakini adanya tuhan tentu kita akan kembali berserah diri kepada sang pencipta. 

Meyakini bahwa tuhan adalah tempat kita kembali untuk mengadu asa dan mempertarungkan doa untuk keadaan kita bik dari segi ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lainnya. 

Tuhan mempunyai wewenang atau kekuasaan tertinggi atas diri manusia, serta dalam islam kita juga dianjurkan untuk senantiasa bersyukur dengan ikhlas dan melakukan ikhtiar untuk segala kondisi yang terjadi saat ini bisa lebih baik lagi.

Kebersyukuran

Kebersyukuran adalah salah satu bentuk wacana yang sering diperbincangkan baik dalam konsep psikologi islam maupun barat. Kebersyukuran juga termasuk dalam bahasan theology dan filosofis. 

Ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah mengajarkan salah satunya tentang bagaimana manusia harus bersifat syukur. 

Kalaulah kita kaitkan dengan konteks kekinian, saat bumi pertiwi yang kita cintai dilanda dengan musibah atau fenomena yang buruk yang tercatat dalam catatan sejarah perjalanan bangsa ini yaitu hadirnya virus covid-19, tentu banyak menyita emosi, pikiran dan bahkan mengurangi nilai kebersyukuran dalam diri manusia  sendiri. 

Hal ini disebabkan kondisi kebutuhan jasmaniah dan rohaniah yang tidak balance atau tidak bisa terpenuhi seutuhnya di masa pandemi covid-19 ini. 

Maka perlu kitakaji dan pahami lagi makna dari kebersyukuran dan konseptual dari kata bersykur agar kita tidak terjebak dalam dilema atau tekanan mental yang tidak sehat dalam melangsungkan aktifitas kehidupan kita.


Kebersyukuran Dalam Perspektif psikologi

Umumnya bahasan tentang bersyukur telah banyak dibahas dalam konteks moral dan konseptual. Seperti yang dipaparkan Emmons dalam bidang psikologi terdapat pandangan ilmiah tentang keilmuan atau konsep tentang kebersyukuran yang didasarkan pada pendekatan fakta- fakta realitas yang terjadi, yang disebutkan dengan “Scientific Perspective” juga “Epiden Based”.

Kebersyukuran akan muncul dengan meningkatnya daya motivasi atau prestasi yang diperoleh seseorang. 

Bersyukur adalah sebagai cara diri kita agar terhindar dari kondisi mal adaptip serta bisa sebagai obat dan menghindarkan kita dari munculnya depsresi, menjaga mental agar tetap baik dan sehat, rasa syukur yang kita miliki juga akan membantu kita terhindar dari afeksi negative.

Dalam konsep Well Being semua hal tidak terlepas dari adanya emosi positif yang dihasilkan oleh orang- orang yang selalu bersifat bersyukur. 

Pengalaman positif dari pelaku syukur kemudian akan memperluas pola pikir (mindset) dan pola tindakan ( Action Sequences) dan akan memperkaya sumber daya psikologis kita. 

Sehingga fungsi dari bersyukur menurut Psikologi barat adalah untuk membantu manusia dalam membangun solidaritas atau hubungan yang kuat antar sesama. Serta bersyukur (Grattitude) biasanya dalam tradisi spritual yang sering ditunjukkan adalah “Thanksgiving”. 

Ini muncul dikarenakan rasa kebersyukuran atas raihan kenikmatan yang kita capai didunia. Syukur secara transendental dipahami sebagai sikap individu dalam mengenali adanya kekuatan di luar kemampuan manusia yang mampu menghubungkan satu individu dengan individu lain. 

Sehingga respon yag ditunjukkan adalah saling mendorong manusia untuk saling membalas kebaikan yang dilakukan seseorang. Sehingga muncul Motivasi untuk melakukan kebaikan tersebut didasari oleh apresiasi atas kebaikan dan manfaat yang diberikan orang lain dalam kehidupan kita.

Sementara dalam aktifitas kehidupan sehari-hari kebersyukuran dikelompokkan dalam 3 bentuk yaitu syukur dalam bentuk lisan, hati dan juga perbuatan. 

Namun kita masih sering lalai dalam mensinkronkan ketiga nya ini sehingga sering muncul kersahan dan kurang rasa bersyukur yang secara maksimal yang akan berpengaruh kepada jiwa dan sering merasa merenungi nasib kita.

Sering merasa musibah yang datang adalah bencana atas dasar tuhan membenci kita, serta sering merasa resah dengan pembelajaran Online merasa tidak maksimal sehingga muncul respon atau stimulus untuk bemalas- malasan sehingga yang diperoleh juga tidak akan maksimal. 

Kondisi sebab akibat ini merupakan bentuk dampak negative dari keresahan dan kondisi mental yang tidak sehat. 

Namun seharusnya seperti dalam pandangan psikologi islam kebersyukuran itu harus saling berkaitan dan berkesinambungan dilaksanakan dalam ketiga konsep kebersyukuran diatas yakni dengan cara bersyukur dari hati yaitu memunculkan kesadaran atau pengakuan dari dasar hati atau kesadaran diri kita semata-mata karena Allah SWT. 

Syukur dari segi lisan dapat kita tunjukkan dengan cara melangsungkan kegiatan Dzikir dan berserah diri dan banyak mengingat Allah SWT.

Syukur dalam perbuatan yaitu dalam pengaplikasian dengan cara sujud syukur atau melangsungkan ibadah secara terus menerus sehingga kita akan senantiasa berpikiran positif dan jauh dari perilaku yang tidak baik.

Dalam pernyataan al- Ghazali Kebersyukuran adalah mengetahui bahwa nikmat yang didapatkan adalah datang dari Allah SWT dan merasakan kegembiraan karena mendapat nikmat tersebut, dan menggunakan nikmat yang didapatkan untuk tujuan yang ditentukan dan disenangi oleh pemberi nikmat, yaitu Allah SWT. 

Sehingga dipandang sangat perlu bagi kita untuk senantiasa meningkatkan rasa bersyukur dan berserah hanya kepada Allah SWT, yang mempunyai kuasa penuh dalam diri dan aktifitas kita.

Dengan merawat kebersyukuran tentu akan menjaga kesehatan mental dalam diri kita walaupun banyak musibah atau cobaan yang dihadapi, dalam aktifitas dunia yang penuh dengan bencana ketakutan dan banyaknya kekhawatiran pada masa pandemi ini. 

Karakteristik mental yang sehat menurut Imam Al-Ghazali, itu didasarkan pada seluruh aspek kehidupan manusia. Yaitu meliputi habl min Allah, habl min al-nas, dan habl min al-alamin. 

Tiga indikator menurut Al-Ghazali yang menjadi karakteristik mental yang sehat adalah keseimbangan jasmani dan rohani, memiliki kemuliaan akhlak dan kesucian jiwa, serta memiliki makrifat tauhid kepada Allah SWT.

Kesehatan mental dalam pandangan psikologi Islam besar berkaitan erat dengan jiwa, fikiran, perasaan, sikap jiwa, pandangan dan keyakinan hidup sehingga akan memunculkan keharmonisan dalam kehidupan dan menghindarkan diri dari perasaan ragu dan bimbang serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan batin. 

Hati yang tidak tenang dan juga dipengaruhi oleh nafs ammarah, namun ketika kita berhasil mengendalikan hati dan perbuatan kita maka mental kita  juga akan ikut terjaga. Hati yang menyadari bahwa dalam kondisi seperti sekarang ini (pandemi Covid-19), manusia sedang dihadapkan dengan ujian dan cobaan. 

Untuk itu, ikhlas, bersabar dan bertakwa adalah kuncinya. Sehingga akan mempengaruhi perilaku dan kondisi hati dan mental kita dan akan terhindar dari nafs ammarah sehingga kita akan mampu melewati masa COVID-19.

Mengutip dari terjemahan QS An Nisa ayat 147 yang menjelaskan bahwa dalam aktifitas kehidupan kita harus senantiasa bersyukur sehingga apapun kesulitan dan cobaan yang kita hadapi akan dengan mudah bisa kita lewati Yaitu “Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. 

Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui” sehingga dapat kita simpulkan dalam konsep Islam rasa syukur ditujukan secara khusus kepada Allah dan kita buktikan dalam aktifitas kehidupan kita.

Karena senantiasa Kebersyukuran dan keikhlasan yang dibarengi dengan keyakinan dan usaha akan sampai pada hasil yang baik, dan kehidupan kita akan mendapatkan Ridha Allah SWT.

**)  Mahasiswa Pascasarjana Psikologi Pendidikan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
 

Pewarta: Aprizal Harahap. S.Sos **)

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2021