Rektor Universitas Negeri Medan Prof Dr Syawal Gultom,MPd, mengatakan ada tujuh pilar yang perlu dilakukan guru dalam pengajaran Bahasa Inggris pada abad 21.

"Guru harus mempunyai kebijakan untuk memperkuat pengajaran Bahasa Inggris. Guru harus dapat menempatkan pengajaran Bahasa Inggris dengan alasan yang tepat," kata Syawal, dalam sambutannya pada acara The 66 tahun TEFLIN Internasional Conference and English Language Education Expo 2019 di Auditorium Unimed di Medan, Kamis.

Ia juga mengatakan ada 15 alasan kenapa murid ingin belajar Bahasa Inggris, salah satunya yaitu tampak lebih gaul dan smart.

Untuk itulah guru harus pandai memanfaatkan alasan tersebut, agar mendorong siswa belajar Bahasa Inggris.Profesionalisme guru dan dimana guru harus dapat memahami, serta menggunakan IT dan ICT.

"Motivasi siswa dalam belajar Bahasa Ingggris sehingga kebanggaan bagi para siswa," ujar Syawal.

Baca juga: Rektor Unimed apresiasi mahasiswanya peringkat tujuh MTQM di Aceh

Ia menyebutkan guru harus memperkenalkan content yang sesuai abad 21, untuk itu maka harus memetakan berapa banyak guru yang menguasai IT.

Guru harus mengerti mengembangkan content berbasis digital dalam pengajarannya. Bandwith, karena hal ini diperlukan jika ingin mengembangkan content digital.

"Selain itu, sekolah harus mempunyai helpdesk, jadi jika ada permasalahan mereka tahu harus menjumpai siapa," ucap dia.

Syawal menjelaskan ketika Bahasa Inggris diletakkan pada paradigma pendidikan, maka termasuk dalam "the way of thinking, the tools of working dan living in the world" artinya bagaimana menjadi good citizen secara globally dan locally yaitu dengan menghormati orang lain. Bagaimana menghormati orang lain jika tidak bisa Bahasa Inggris.

Pada abad 21 yang diperlukan adalah digital literasi dan bagaimana berpikir invented dan efektif communication yaitu bagaimana berkomunikasi yang efektif untuk bersama berkembang .

Untuk itu, guru di abad Bahasa Inggris harus dapat mengaktifkan sumber digital dalam pengajarannya.

"Karena itu, kami memmperkenalkan blended learning. Bahasa Inggris harusnya menjadi pelajaran yang dapat mengendorse blended learning," katanya.

Konferensi Internasional TEFLIN 2019 dilaksanakan selama tiga hari (8-10 Agustus 2019) yang mengusung tema;"Learning English as a Global Lingu Franca and Intercultural Communication to Embrace Industrial 4.0: Policy, Pedagogy, and Assessment".

 

Pewarta: Munawar Mandailing

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2019