Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir meminta agar rektor di perguruan tinggi melakukan tes narkoba pada mahasiswa baru.

"Tujuannya untuk memastikan mahasiswa yang baru masuk tersebut tidak mengonsumsi narkoba," ujar Menristekdikti di Jakarta, Selasa.

Ia menambahkan tes narkoba tersebut sudah dilakukan sejak 2017. Oleh karena itu, dia meminta agar tes tersebut terus dilakukan. Selain itu, rektor juga diminta untuk memastikan di lingkungan kampusnya tidak ada peredaran narkoba.

Ia mengaku sangat menyesalkan kasus peredaran narkoba yang terjadi di sejumlah kampus di Jakarta. Sebelumnya, Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resor (Polres) Metro Jakarta Barat berhasil menangkap lima bandar narkotika jenis ganja di lingkungan kampus, dua di antaranya mahasiswa. Bandar narkoba itu, ada yang berstatus mahasiswa aktif, ada yang sudah tidak sekolah lagi atau sudah drop out, kemudian ada yang bukan mahasiswa.

Sebanyak 80 kilogram ganja dibagi ke masing-masing kampus yang ada di DKI Jakarta. Sebanyak 39 kilogram sudah diedarkan di kampus yang berada di Jakarta Barat, dua kampus di Jakarta Selatan 9 kilogram, kemudian 12 kilogram di salah satu universitas di Jakarta Timur. Kemudian sisanya masih dalam penyidikan.

"Kami sangat menyesalkan adanya peredaran narkoba di lingkungan kampus ini. Oleh karena itu, kami meminta agar pengawasan ditingkatkan lagi," imbuh dia.

Sementara itu, Direktur Kemahasiswaan Ditjen Belmawa Didin Wahidin mengatakan pihaknya akan memperkuat apa yang sudah dilakukan, yakni Artipena atau aliansi relawan perguruan tinggi antipenyalahgunaan narkoba.

"Terus terang, kami kecolongan karena kami kira kasus-kasus narkoba sudah selesai. Ternyata masih ada. Tentu, kami akan semakin meningkatkan program-program yang sudah ada," kata Didin.




 

Pewarta: Indriani

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2019