Calon Anggota DPD RI Dapil Sumut, Dadang Darmawan Pasaribu menemui warga yang bermukim di pinggir rel di Jalan Tapian Nauli, Lingkungan 2, Teladan Barat, Jumat (12/4) malam.

Kehadirannya memenuhi undangan warga yang tergabung dalam Komunitas Masyarakat Peduli Pinggiran Rel dan Sekitarnya (Kompres). Pada kesempatan itu Dadang mamaparkan berbagai hal terkait dengan pelaksanaan Pemilu pada 17 April 2019.

Dalam visi pencalonannya sebagai anggota DPD RI, dadang menyampaikan bahwa visi merupakan sebuah impian, harapan atau masa depan. Dan seandainya semua pemimpin memahami visi sebagai anak bangsa, maka sebenarnya hanya ada satu visi.

"Tidak bisa visi Presiden berbeda dengan Gubernur, visi Gubernur beda dengan Bupati, atau visi Bupati berbeda dengan visi Wali Kota. Begitu juga visi eksekutif dengan yudikatif," kata dia.

Visi tersebut ada di dalam pembukaan UUD 1945. Yakni mewujudkan bangsa Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Siapapun yang ingin menjadi pemimpin, visinya cuma itu, ujar dia.

Siapa pun kita, lanjut Dadang, tidak mungkin ingin membuat bangsa ini terjajah, tercerai berai dan tidak mungkin juga membuat bangsa ini tidak berdaulat atau terhina di hadapan bangsa lain. Apalagi tidak adil dan tidak makmur.

"Kalau itu terjadi, berarti kita tak punya impian," katanya lagi.

Karena itu, visi calon presiden dan anggota legislatif seharusnya sama. Semua bertujuan agar bangsa ini menjadi bangsa yang merdeka, tidak terjajah, tidak cerai berai, bersatu. Dan tidak baku hantam sebagaimana dinamika Pemilu pada hari ini yang sudah kerap hampir terjadi sesama anak bangsa.

Dia berharap lingkungan tersebut dalam kondisi aman dan menurutnya berbeda pilihan adalah hal biasa, tidak perlu hanya masalah itu sesama warga berkonflik. Dalam pelaksanaan Pemilu setiap warga harus tetap bersaudara dan tetap kuat sebagai bangsa Indonesia.

"Musuh kita bukan di antara kita sendiri, tetapi dari luar. Kita menanam sawit dan karet sendiri, tetapi yang menentukan harganya, asing. Tidak bisa petani karet menentukan harganya sendiri, yang berarti kita belum berdaulat sepenuhnya. Berdaulat artinya kita yang menentukan nasib dan masa depan sendiri," papar Dadang.

Mengenai keadilan, dia pun menegaskan bahwa sekarang ini masih banyak terjadi diskriminasi, di mana yang kaya semakin kaya dan mereka yang miskin semakin terpuruk.

"Yang di pinggiran rel siap-siap digusur. Begitu juga dengan kemakmuran, kita masih jauh sekali dari kemakmuran," ujarnya.

Mengenai misi, Dadang mengatakan dirinya membawa tiga hal utama. Yang pertama adalah pendidikan dan yang dikedepankan terlebih dahulu adalah pendidikan moral. Seperti yang dicontohkan Ki Hajar Dewantara.

Ki Hajar Dewantara, menurut dia, mendirikan Taman Siswa dengan pondasi budi pekerti. Setelah itu baru dikuatkan kecerdasan dengan ilmu pengetahuan. Dan misi kedua adalah pembangunan kesehatan, baik fisik maupun mental.

Kesehatan fisik dapat dijaga dengan berolahraga, tetapi lebih sulit membangun kesehatan mental untuk menumbuhkan rasa empati, peduli, dll. Kemudian misi ketiga adalah menyejahterakan masyarakat lemah.

Setiap kebijakan, kata dia, siapapun pemimpinnya, harus berpihak kepada masyarakat lemah. Apakah kaum buruh, petani, nelayan, pedagang asongan, kaki lima dan sektor informal lainnya. Termasuk masyarakat pinggir rel.

"Kalau bukan saya yang terpilih, kita titipkanlah pesan-pesan moral ini kepada mereka yang duduk agar mereka mengemban visi dan misi sebagaimana yang termaktub dalam konstitusi kita," demikian Dadang.

Pewarta: Donny Aditra

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2019