Medan, 30/11 (Antarasumut) - Masyarakat menyambut gembira peresmian program BBM Satu Harga di Nias Sumatera Utara dan Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. 

Mereka percaya, program tersebut bisa meningkatkan tingkat kesejahteraan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di wilayah Sumatera. 

“Kami yakin, program ini besar manfaatnya. Untuk itu, kami memberi apresiasi kepada Pertamina sebagai operator pelaksana,” kata Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut, Johan Brien, di Medan, kemarin. 

Menurut Johan, progam BBM Satu Harga diharapkan bisa menggerakkan daya saing, daya beli, dan juga roda perekonomian masyarakat setempat. Karena kondisi ini, lanjut Johan, secara tidak langsung juga berdampak positif bagi kalangan pengusaha. 

“BBM Satu Harga sangat membantu masyarakat kecil. Biaya transportasi menjadi lebih rendah sehingga pendapatan masyarakat bertambah. Ini semua bisa menstimulasi kegiatan ekonomi dan berimbas baik juga bagi pengusaha,” lanjut Johan, yang juga putra asli Nias. 

Johan menambahkan, bisa jadi masyarakat Lahomi selama ini tak pernah bermimpi bahwa harga BBM bisa sama dengan wilayah lain. Selain faktor geografis, juga karena infrastruktur yang memang kurang mendukung. 

“Makanya, ketika sekarang muncul program BBM Satu Harga, tidak ada alasan lagi harga minyak di sini mahal. Dan ini pasti positif untuk perekonomian setempat,” lanjut dia. 

Dalam kaitan itulah Johan optimistis, bahwa ke depan seluruh sektor juga bisa bergerak maju. Termasuk di antaranya, pariwisata yang notabene memiliki potensi sangat besar. Untuk wisata pantai, misalnya, Nias sudah dikenal sebagai lokasi surfing terbaik di dunia. 

“Tidak boleh berhenti pada BBM Satu Harga. Ke depan harus pula didukung infrastruktur dan sokongan pemerintah untuk berbagai sektor ekonomi, termasuk pariwisata,” lanjutnya. 

Dalam waktu dekat, Pertamina memang melanjutkan pengoperasian Lembaga Penyalur BBM Satu Harga. Selain di Kecamatan Lahomi, Nias Barat, peresmian Lembaga Penyalur BBM Satu Harga juga dilakukan di Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. 
Sebelumnya, program ini sudah berjalan di Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku Utara, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Jatim, Jateng, Sumatera Utara, Sumatera Barat, NTT, NTB, dan Bali. Hingga akhir 2017, Pertamina menargetkan peegoperasikan 54 Penyalur BBM Satu harga.

Terkait peresmian Penyalur BBM Satu Harga di Natuna, karyawan Jasa Raharja yang bertugas di Kantor Samsat Kepulauan Natuna, Zulkarnain, juga menyambut gembira.

Zulkarnain berharap, program tersebut bisa meningkatkan kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak kendaraan bermotor, yang notabene juga meliputi premi asuransi kecelakaan jalan raya yang dikelola Jasa Raharja. 

“Dengan berkurangnya beban biaya, kami berharap pemilik kendaraan bermotor pajak bisa mengalokasikan anggarannya untuk membayar STNK tepat waktu,” kata dia. 

Zulkarnain sendiri mengaku, kondisi saat ini membuat harga berbagai kebutuhan pokok lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia. “Kecuali ikan, yang memang banyak tersedia Natuna, hampir semua kebutuhan relatif lebih mahal,” kata dia. 

Itulah sebabnya, Zulkarnain mendukung upaya Pertamina dalam menerapkan program BBM Satu Harga ini. Dia percaya, bahwa semua program yang dilakukan, adalah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Pewarta: Irwan Arfa

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2017