Medan (ANTARA) - Aceh kembali berduka. Hujan deras yang turun tanpa jeda memicu banjir besar dan longsor di berbagai wilayah, menenggelamkan rumah-rumah warga, memutus akses jalan, serta memaksa ribuan keluarga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Air yang meluap dari sungai datang begitu cepat, menyeret apa pun yang dilaluinya harta benda, kenangan, bahkan nyawa. Bagi masyarakat Aceh, tragedi ini menghadirkan trauma kolektif yang mengingatkan pada luka lama: gelombang tsunami yang pernah meluluhlantakkan Serambi Mekkah hampir dua dekade silam.
Di tengah kepedihan itu, muncul satu pertanyaan yang terus bergema di ruang publik, media sosial, hingga obrolan di pos pengungsian: apakah banjir Aceh ini murni takdir dari Allah, atau akibat dari ulah manusia yang lalai menjaga alam?
Dalam Islam, keyakinan terhadap takdir merupakan bagian dari rukun iman. Seorang Muslim meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan ketetapan Allah SWT.
Al-Qur’an menegaskan: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid [57]: 22)
Ayat ini sering menjadi penguat bagi umat Islam untuk menerima musibah dengan lapang dada. Bahwa banjir, gempa, longsor, dan berbagai bencana alam bukanlah kejadian acak tanpa makna, melainkan bagian dari ketentuan Allah yang telah ditetapkan jauh sebelum manusia dilahirkan.
Dalam konteks ini, menerima takdir bukan berarti pasrah tanpa sikap, melainkan menerima dengan kesadaran iman, bahwa di balik setiap musibah terdapat hikmah, ujian, dan pelajaran.
Islam mengajarkan sikap sabar, tawakal, dan berbaik sangka kepada Allah, bahkan ketika kenyataan terasa begitu pahit. Namun, Islam juga tidak mengajarkan umatnya untuk berhenti berpikir.
Di sinilah Al-Qur’an menghadirkan keseimbangan yang adil. Selain menegaskan kekuasaan Allah atas segala sesuatu, Al-Qur’an juga berbicara tegas tentang tanggung jawab manusia atas apa yang terjadi di muka bumi.
Allah SWT berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41)
Ayat ini menjadi kunci dalam membaca bencana dari sudut pandang Islam yang utuh. Kerusakan alam bukan sekadar fenomena alamiah, tetapi juga buah dari pilihan manusia: eksploitasi berlebihan, pembalakan liar, pembukaan lahan tanpa kendali, pertambangan yang mengabaikan ekosistem, serta kebijakan yang menempatkan keuntungan ekonomi di atas kelestarian lingkungan.
Banjir yang melanda Aceh hari ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi lingkungan yang semakin rapuh. Banyak kawasan hutan yang dahulu berfungsi sebagai penyangga air kini menyusut drastis.
Hutan yang seharusnya menjadi “spons alami” penyerap air hujan berubah menjadi area perkebunan monokultur dan tambang terbuka. Ketika hujan ekstrem datang, air tidak lagi terserap dengan baik, melainkan langsung mengalir deras ke sungai dan permukiman warga.
Berbagai laporan lingkungan menunjukkan bahwa konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dan aktivitas pertambangan berkontribusi besar terhadap meningkatnya risiko banjir di Sumatra, termasuk Aceh.
Tanaman sawit, misalnya, memiliki daya serap air yang jauh lebih rendah dibandingkan hutan alami dengan vegetasi berlapis dan akar yang kompleks. Akibatnya, tanah menjadi lebih keras, mudah tererosi, dan tidak mampu menahan debit air dalam jumlah besar.
Ketika kawasan hulu sungai rusak, dampaknya akan dirasakan di hilir.
Desa-desa yang berada di bantaran sungai menjadi korban pertama. Banjir yang seharusnya bisa diminimalkan berubah menjadi bencana besar yang merenggut nyawa dan mata pencaharian. Islam memandang alam bukan sebagai objek yang bebas dieksploitasi, melainkan amanah.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia.” (QS. Al-Ahzab [33]: 72)
Manusia dipilih sebagai khalifah di bumi, bukan untuk merusak, melainkan untuk menjaga keseimbangan.
Allah Tidak Mengubah Nasib, Jika Manusia Tidak Berubah dan Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra’d [13]: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan nasib baik menuju kebaikan maupun keburukan sangat bergantung pada sikap dan tindakan manusia.
Jika kerusakan lingkungan terus dibiarkan, jika regulasi hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, jika alam terus diperas tanpa pemulihan, maka bencana akan terus berulang.
Dengan kata lain, takdir Allah berjalan seiring dengan ikhtiar manusia. Allah menetapkan hukum sebab-akibat di alam semesta.
Ketika hutan ditebang, daya serap air berkurang. Ketika daerah aliran sungai rusak, banjir menjadi lebih destruktif. Semua itu adalah sunatullah hukum Allah yang berlaku di alam.
Maka, ketika ditanya apakah banjir Aceh adalah takdir atau ulah manusia, jawabannya bukanlah hitam atau putih. Ia adalah takdir Allah yang terjadi melalui sebab-sebab yang diciptakan-Nya, termasuk melalui perbuatan manusia sendiri.
Banjir adalah ketetapan Allah, tetapi skala kehancurannya dipengaruhi oleh bagaimana manusia menjaga atau merusak alam.
Islam mengajarkan keseimbangan: menerima takdir dengan iman, sekaligus bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil di dunia.
Aceh hari ini bukan hanya membutuhkan bantuan logistik dan empati, tetapi juga kejujuran kolektif untuk bercermin. Jika alam terus diabaikan, maka bencana akan terus berulang.
Namun jika manusia kembali pada perannya sebagai khalifah menjaga, merawat, dan melindungi bumi maka rahmat Allah akan turun bersama keselamatan. Karena pada akhirnya, alam tidak pernah berkhianat. Manusialah yang sering lupa akan amanah.
***( Penulis adalah Khairunisa Hasanah
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi
UIN Sumatera Utara Angkatan 2022
Pewarta: Khairunisa Hasanah ***(Editor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026