Ferguson adalah seorang profesor pada Imperial College di London yang telah membantu pemerintah merancang langkah penanganan wabah tersebut.
Baca juga: Hingga Minggu, Positif COVID-19 di Indonesia 2.273 kasus dan 164 sembuh
Baca juga: Labkes Bandung: Virus corona ikut mati setelah jenazah dimakamkan
"Kita sudah mengalami kurva perkembangan infeksi yang berlipat-lipat, yang kita sempat hentikan pada waktu tertentu," kata ahli epidemiologi itu dalam program Andrew Marr di BBC.
"Saat ini kita tidak punya kemampuan untuk mengukur berapa banyak orang yang sudah terinfeksi, yang akan diketahui dengan tes antibodi, dan karenanya kami membuat perkiraan statistik tentang hal itu.
"Menurut kami, jumlahnya bisa berkisar antara 7.000 dan sedikit lebih dari 20.000."
Sumber: Reuters
Pewarta: Tia MutiasariEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.