Bahkan kami menilai ini merupakan salah satu bentuk kegagalan Pemkot Tanjungbalai seperti yang pernah diungkapkan Wakil Wali Kota beberapa waktu laluTanjungbalai, (Antaranews Sumut) - Pengunjuk rasa dari kalangan nelayan kerang meminta Pemkot Tanjungbalai memikirkan nasib mereka karena sudah dua bulan tidak melaut, bahkan rekor MURI yang diraih pemerintah tidak ada artinya jika mereka masih terancam mencari nafkah.
Hal ini diungkapkan perwakilan nelayan kerang Syafaruddin Harahap, Rabu, dalam rapat dengar pendapat di gedung DPRD Tanjungbalai terkait terancamnya para nelayan akibat konflik antar sesama nelayan sejak pemberlakuan Permen Kelautan dan Perikanan Nomor 71 Tahun 2016.
Disebutkan, bulan Desember 2017 lalu Pemkot Tanjungbalai meraih rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas kegiatan makan kerang terbanyak yang melibatkan warga di daerah setempat. Akan tetapi, rekor tersebut sangat bertolak belakang dengan nasib nelayan kerang saat ini.
"MURI itu tidak ada artinya jika kami (nelayan kerang) masih terancam mencari makan. Bahkan kedepannya ikon Tanjungbalai sebagai "kota kerang" hanya akan tinggal nama dalam kenangan," ungkapnya di hadapan Ketua Komisi B dan para anggota DPRD Tanjungbalai.
Syarifuddin Harahap melanjutkan, keresahan nelayan kerang warga Tanjungbalai yang terancam kelaparan hendaknya segera ditanggapi oleh para pemangku kebijakan baik itu pihak Eksekutif, Legeslatif dan Yudikatif.
Menurut dia, jika mengurus persoalan yang dihadapi kalangan nelayan saja Pemkot Tanjungbalai terkesan tidak mampu, bagaimana rakyat bisa hidup sejahtera seperti visi yang digadang-gadang oleh Wali Kota.
"Bahkan kami menilai ini merupakan salah satu bentuk kegagalan Pemkot Tanjungbalai seperti yang pernah diungkapkan Wakil Wali Kota beberapa waktu lalu," katanya Syarifuddin Harahap.
Sebagaimana diinformasikan ratusan nelayan kerang warga Kota Tanjungbalai melakukan demo mendesak pemerintah menkaji ulang Permen KP 71/2016 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkap Ikan, sebab tidak sesuai dengan kondisi perairan di pantai timur Sumatera.***4*** (KR-YWK)
Pewarta: Yan AswikaEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.