"Kita sudah lakukan antisipasi untuk itu," kata Kepala Dinas Perikanan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Paluta Ir Mara Bangun Harahap ditemui diruang kerjanya, Rabu.
Didampingi drh Samsul Bahri dan drh Kevin, Kadis Mara Bangun mengatakan antisipasi tersebut seperti memberikan sosialisasi, edukasi dan vaksinasi.
"Sosialisasi tersebut kita laksanakan sejak mewabahnya penyakit hewan Jembrana di wilayah Tabagsel utamanya di wilayah Padang Lawas,"katanya.
Sejak 19 Januari kita sosialisasi belum satupun ada laporan sapi bali khususnya di Paluta yang terserang penyakit Jembrana, hingga sampai ke pasar-pasar hewan.
"Ada sekitar lebih kurang 50 ekor populasi sapi bali yang diternak para petani ternak yang tersebar di 12 Kecamatan di daerah itu, dan paling banyak terdapat di Kecamatan Padang Bolak Tenggara,"sebutnya.
Menurut dia, indikasi sapi bali yang terserang penyakit jembrana terkena deman tinggi, mencret lalu dengan waktu tidak terlalu lama hewan ternak itu pun mati.
"Selain itu kita juga sudah penguman di pasar pasar hewan, mellaui kepala desa dan warung-warung apabila menemui adanya indikasi terhadap sapi peternak untuk segera cepat melaporkan kepada dinas kita,"pintanya.
Untuk wilayah Paluta jenis ternak sapi Bali baru mulai dikembangkan. Kelebihan dengan sapi lokal lain memiliki Karkas sedikit dan bobotnya bisa mencapai 350 kilogram lebih per ekornya.
"Penyakit jembrana, penyakit unik di indonesia ditemukan pertama kali pada sapi bali, sapi asli indonesia,"pungkasnya.
Pewarta: Kodir PohanEditor : Akung
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.