Sipirok,10/1(Antarasumut)-Lantosan Rogas, sebuah desa 'terpencil' di Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan kini mulai berbenah diri.

Letak geografis desa itu 'unik' dikelilingi Kabupaten Tetangga Padang Lawas Utara, tetapi kehidupan warganya nyaman, aman dan damai.

Sekarang, desa yang dihuni sekitar 60 Kepala Keluarga itu berupaya keras menjadikan nilai plus dari desa-desa binaan di wilayah Kabupaten yang saat ini dipimpin Bupati dua Periode Syahrul M.Pasaribu.

Rumah-rumah warga sederhana serempak menggunakan pagar yang dicat berwarna kuning hijau, sebagai 'simbol' kekompakan dalam menjaga adat budaya 'dalihan natolu'.

Sehingga lingkungan itu tampak bersih, sehat, serta aman dan betul betul refresentatif. Halaman lingkungan dimanfaatkan sebagai apotik hidup, tanah-tanah josong ditumbuhi berbagai macam sayur mayur.

Peran positif Darwin Harahap salah seorang Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang bertekad menjadikan Lantosan Rogas menjadi sebuah Desa mandiri berlingkungan yang bersih dan sehat.

"Saya ingin Lantosan Rogas akan menjadi desa percontohan bagi Ratusan desa-desa lainnya di Tapanuli Selatan,"ungkap Darwin saat berbincang kepada Antarasumut, Selasa.

Ia sudah mulai merubah pola pikir warga setempat, ia ajak memanfaatkan luas pekarangan kosong untuk bisa bermanfaat dan berpotensi menjadi sumber kehidupan baru.

"Mulai dari jae, lengkuas, sayur mayur seperti bayam, kangkung, dan daun ubi, sawi dan lain sebagainya mulai tumbuh subur dipekarangan kosong warga," sebutnya.

Minimal,  ditengah kondisi perekonomian yang gonjang ganjing saat ini kebutuhan warga akan konsumsi sayur mayur dan bahan obat-obatan tradisional tidak lagi membeli.

"Alhamdulillah, warga mulai menyadari betapa berharganya lingkungan sehat, aman, nyaman, bersih, dan bernilai ekonomis,"sebutnya.

Terkait pengembangan pertanian sawah di Lantosan Rogas berpenduduk sekitar 500 jiwa mereka menerapkan teknologi tanam Jajar Legowo atau "Jarwo" 2:1.

"Sejak Tahun 2015 Jajar Legowo bisa hingga menghasilkan ubinan 10 ton/hektare dengan menggunakan varietas ciherang dengan pola tanam serentak,"sebutnya.

Sementara untuk luas areal pertanian sawah di daerah itu ia katakan mencapai sekitar 20 hektare dengan dua Kelompok Tani Raptama dan Melati Jaya dibawah binaan PPL.

Pewarta: Kodir Pohan
Editor : Akung

COPYRIGHT © ANTARA 2026