Medan, 8/1(Antara) - Devisa Sumatera Utara dari karet dan barang karet hingga November 2015 turun hingga 21,49 persen dibandingkan periode sama tahun 2014 dampak permintaan dan harga jual yang melemah.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Wien Kusdiatmono di Medan, Jumat, mengatakan, pada Januari-November 2014, nilai ekspor karet Sumut sudah mencapai 1,352 miliar dolar AS.

Sedangkan pada periode sama tahun 2015 tinggal 1, 061 miliar dolar AS.

Penurunan devisa itu merupakan dampak dari melemahnya harga ekspor termasuk permintaan menyusul masih terjadi krisis global.

Dengan penurunan devisa, kontribusi golongan barang itu pada total devisa ikut turun atau hanya 15 persen.

Tetapi meski 15 persen, devisa dari karet dan barang dari karet tetap menduduki peringkat kedua terbesar dalam pemasok devisa Sumut setelah lemak dan minyak hewan/nabati.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah mengatakan, produksi karet Sumatera Utara tahun 2015 diprediksi paling banyak hanya sekitar 450.000 ton dari 2014 yang mencapai 465.000 ton.

Produksi yang turun itu karena faktor turunnya harga dan iklim.

Penurunan harga memicu banyak petani tidak menderes dan bahkan menebang pohon karetnya.

Dia memberi contoh harga karet di pasar internasional tinggal satuan dolar AS per kg sehingga di pabrikan, bahan olah karet (bokar) juga hanya di kisaran Rp13ribuan per kg.

Harga karet itu bahkan diprediksi bakal anjlok lagi karena harga minyak mentah terus melemah.

"Melihat kondisi akhir tahun 2015 dan di awal Januari 2016, Gapkindo memprediksi bisnis karet di 2016 tidak jauh berubah dari 2015," katanya.

Pewarta: Evalisa Siregar
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026